Senin, 25 Mei 2026

Opini

Di Dadaku Tetap Merah Putih

Beberapa pekan terakhir, jagat maya dan ruang publik Indonesia diramaikan oleh pengibaran bendera bajak laut One Piece

Tayang:
Editor: Abd Rahman
zoom-inlihat foto Di Dadaku Tetap Merah Putih
Istimewa
Dr. Basrin Ombo, S.Ag., M.HI. (Sekretaris Masyarakat Cinta Masjid Indonesia Kabupaten Poso) 

Oleh : Dr. Basrin Ombo, S.Ag., M.HI

(Sekretaris Masyarakat Cinta Masjid Indonesia Kabupaten Poso)

 

TRIBUN-SULBAR.COM- Beberapa pekan terakhir, jagat maya dan ruang publik Indonesia diramaikan oleh pengibaran bendera bajak laut One Piece, tepat menjelang Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80. Simbol tengkorak bertopi jerami, yang di dunia fiksi menjadi lambang kebebasan dan pemberontakan terhadap tirani, dikibarkan oleh sebagian masyarakat di samping bahkan bersama bendera Merah Putih.
Fenomena ini mengundang decak heran, perdebatan, hingga kecaman dari berbagai pihak.

Tapi yang lebih penting dari reaksi sesaat adalah pemahaman terhadap mengapa hal ini bisa terjadi. Menurut pengamat, sebagaimana diulas dalam media Kumparan.com. pengibaran ini mencerminkan kegelisahan terhadap kebijakan pemerintah, seperti pungutan liar di jalan, pajak tak transparan, dan ketidakpedulian terhadap rakyat kecil.

Bendera One Piece dianggap sebagai saluran ekspresi alternatif, terutama bagi generasi muda yang terbiasa menyampaikan kritik lewat budaya pop ketimbang demonstrasi langsung. Generasi muda hari ini tumbuh dalam realitas yang berbeda dari  generasi kemerdekaan.

Jika dulu perlawanan diwujudkan melalui angkat senjata atau demonstrasi di jalan, kini kritik bisa lahir lewat meme, musik, bahkan bendera fiksi dari dunia anime. One Piece bukan sekadar hiburan bagi jutaan anak muda, tapi merupakan alegori tentang ketidakadilan, korupsi, dan semangat meraih kebebasan sejati.  

Ketika mereka mengibarkan bendera bajak laut, bisa jadi itu adalah jeritan simbolik atas keresahan yang belum tertampung dalam kanal
formal: kemiskinan struktural, birokrasi yang menjauh dari rakyat, dan ruang aspirasi yang sempit. Namun demikian, dalam setiap ekspresi kebebasan harus tetap ada batas.

Merah Putih bukan sekadar kain dua warna, tapi adalah lambang kedaulatan, tumpah darah, dan identitas bangsa. Merah Putih bukan tandingan dari bendera mana pun, nyata maupun fiksi. Menyamakan atau mendampingkan Merah Putih dengan simbol yang lain, betapapun niatnya, damai atau sarkastik, tetap berisiko mengaburkan nilai-nilai luhur yang telah diperjuangkan oleh para pendahulu bangsa dengan nyawa.

Di sinilah pentingnya keseimbangan. Kita harus membuka ruang bagi ekspresi generasi muda, memahami bahasa baru mereka, dan tidak alergi pada kritik yang disampaikan lewat budaya pop. Tapi kita juga perlu menegaskan bahwa kebebasan berekspresi tidak boleh menabrak konstitusi dan simbol kebangsaan.

Jika keresahan sosial itu nyata, maka tangkaplah suaranya, jangan malah dibungkam. Dan jika cinta kepada negeri ini masih membara, maka ekspresikanlah dengan cara yang memperkuat, bukan memecah. Saya tidak ingin menyalahkan siapa pun secara mutlak. Tapi saya juga tidak ingin simbol bangsa ini dinomorduakan. Karena di dada saya, tetap Merah Putih, dan biarlah warna itu terus berkibar, tanpa tanding dan tanpa banding, sebagai satu-satunya bendera yang layak dikibarkan di tiang tertinggi negeri ini.

Fenomena bendera One Piece lebih dari sekadar tren anime popular, ia menjadi simbol kritik sosial kreatif menjelang hari kemerdekaan Republik Indonesia. Namun karena pengibaran dilakukan di ruang publik bersama Bendera Merah Putih, maka pemerintah harus memperingatkan adanya potensi pelanggaran hukum dan ketidaksemestian dalam menempatkan simbol negara. Sekali lagi, Merah Putih selalu di dadaku.(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved