Harga Bahan Pokok
Harga Tomat Turun Tipis di Pasangkayu, Tapi Harga Cabe Makin Pedas
Setelah sempat menyentuh Rp 30 ribu per kilogram, harga tomat kini hanya dibanderol Rp 23 ribu per kilogram
Penulis: Taufan | Editor: Abd Rahman
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/cabai-keriting-dan-cabai-rawit-masih-tinggi.jpg)
TRIBUN-SULBAR.COM, PASANGKAYU – Kabar gembira bagi ibu rumah tangga di Pasangkayu, harga tomat di Pasar Smart Pasangkayu kini mulai anjlok.
Setelah sempat menyentuh Rp 30 ribu per kilogram, harga tomat kini hanya dibanderol Rp 23 ribu per kilogram.
Penurunan ini disambut antusias oleh pembeli.
Baca juga: DPRD Mamasa Protes, Tak Pernah Dilibatkan dalam Pergeseran Anggaran Pemda Selama 5 Tahun
Baca juga: Sudah Penyidikan,Polisi Belum Kantongi Tersangka Kasus Hilangnya Dana Desa Tapandullu Rp388 Juta
Aisyah, seorang pedagang di Pasar Smart Pasangkayu, menjelaskan bahwa melimpahnya pasokan dari petani menjadi penyebab utama penurunan harga ini.
"Sekarang tomat sudah banyak yang panen, jadi pasokan lebih lancar. Otomatis harga turun," ujarnya pada Senin (21/7/2025).
Namun, di tengah penurunan harga tomat, komoditas lain justru menunjukkan tren sebaliknya.
Harga cabai keriting melonjak dari Rp 55 ribu menjadi Rp 65 ribu per kilogram.
Kenaikan ini cukup signifikan dan membuat banyak pembeli mengeluh.
Tak hanya itu, cabai rawit atau yang dikenal sebagai "cabai sirup" di kalangan lokal, masih bertahan di harga sangat tinggi, yakni Rp 80 ribu hingga Rp 90 ribu per kilogram, dari harga sebelumnya Rp 70 ribu.
Sementara itu, harga bawang merah cenderung stabil namun masih cukup tinggi di kisaran Rp 45 ribu hingga Rp 60 ribu per kilogram dalam lebih dari sepekan terakhir.
Untuk bawang putih, harganya masih stabil di Rp 40 ribu per kilogram.
Dinamika harga ini mencerminkan fluktuasi pasokan dan distribusi hasil pertanian.
Warga dan pedagang berharap pemerintah dapat turun tangan untuk menstabilkan harga, khususnya untuk komoditas yang mengalami kenaikan tajam seperti cabai.
"Kita berharap ada solusi, biar harga tidak terlalu naik turun begini. Kasihan pembeli dan pedagang juga," tutup Aisyah.
Majene Jadi Kabupaten Bawang
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, mencanangkan Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, sebagai calon sentra baru produksi bawang merah nasional.
Dalam kunjungan kerjanya ke Kecamatan Banggae, Sabtu (19/7/2025), Mentan Amran menyampaikan rencana visioner pengembangan kawasan hortikultura di Majene, menjadikannya sebagai Kabupaten Bawang di wilayah timur Indonesia.
“Kita akan menjadikan (Majene) ini Kabupaten Bawang. Kita akan mengembangkan seperti Solok (Sumatera Barat), yang pernah kami kembangkan dan sekarang sudah 13 ribu hektare. Tahun depan, insya Allah, minimal 50 hektare, bisa 100 hektare pembibitan di sini (Majene),” ujar Amran di hadapan petani dan jajaran pemerintah daerah.
Mentan menilai bawang merah asal kabupaten Majene memiliki potensi unggul.
Selain kualitas dan rasa yang sangat baik, produksi bawang merah menurutnya mirip dengan bawang dari Enrekang, Sulawesi Selatan.
Selain itu letak geografis kabupaten Majene yang strategis juga membuatnya ideal untuk memasok kebutuhan kawasan Indonesia Timur dan bahkan Kalimantan.
“Kenapa? Rasanya beda, kualitas bawangnya beda, sangat baik. Mirip Enrekang. Nah ini kita akan kembangkan, sehingga saudara-saudara kita tidak lagi jauh membeli bawang. Bisa saja nanti menyuplai Kalimantan dan sekitarnya,” tambahnya.
Mentan Amran kemudian berkomitmen untuk mendukung pengembangan komoditas ini secara bertahap dan sistematis.
Fokus awal akan dimulai dari lahan pembibitan 10–20 hektare, disertai bantuan pompa irigasi dan alat mesin pertanian (alsintan), yang akan diperluas secara progresif dalam 1–4 tahun ke depan.
“Ini kita fokus bawang. Daerah pegununggan kami bantu pompa, irigasi pompa, kemudian alat mesin pertanian. Mulai pembibitan dulu mungkin 10-20 hektare. Tahun depan, kita lakukan cukup besar. Berikutnya, itu saya kira sudah cukup besar. Mungkin 1-2 tahun, sampai di maksimal 3-4 tahun. Ini sudah menjadi kabupaten bawang. Itu mimpi kita,” terang Amran
Data Kementerian Pertanian (Kementan) menunjukkan bahwa Indonesia telah swasembada bawang merah konsumsi sejak 2016.
Tahun 2024, produksi mencapai 2,08 juta ton (konde basah) atau sekitar 1,35 juta ton rogol kering panen, melebihi kebutuhan nasional sebesar 1,2 juta ton.
Artinya, Indonesia memiliki surplus sekitar 150 ribu ton per tahun.
Letak geografis Majene sangat strategis, berada di jalur lintas yang menghubungkan Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, hingga Kalimantan.
Posisi ini menjadikannya kandidat ideal untuk menjadi salah satu yang menopang produksi hortikultura komoditas bawang merah di Kawasan Indonesia Timur dan IKN.(*)
Laporan Wartawan Tribun-Sulbar.com Taufan
Harga Bahan Pokok Turun
cabe merah keriting
Tomat
majene kabupaten bawang
Pasangkayu
Mentan RI Andi Amran Sulaiman
Pasar Smart Pasangkayu
| Pasca Lebaran, Harga Bahan Pokok di Pasangkayu Mahal, Tomat Rp22 Ribu per Kg, Bawang Merah Rp55 Ribu |
|
|---|
| Sepekan Jelang Lebaran, Harga Cabai dan Bawang di Pasangkayu Masih Ramah |
|
|---|
| Disperindag Mateng Sebut Stok LPG 3 Kg Aman dan Harga Sembako Normal Jelang Lebaran |
|
|---|
| Hampir Merata Naik, Ini Daftar Harga Bahan Pokok di Pasar Topoyo Mamuju Tengah |
|
|---|
| Aneh! Stok Bawang Merah dari Enrekang Melimpah, tapi Harga di Mateng Malah 'Terbang' |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.