Opini
Rahasia Sukses Dosen Baru: Inovasi dan Mindset dari UNIMUS Semarang
Dosen seperti Dr. Prima tak boleh berjalan sendiri. Ia harus menjadi representasi gerakan baru dalam dunia pendidikan tinggi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Elinda-RizasariSpdMpd.jpg)
Oleh:
Dr Elinda Rizkasari,S.Pd.,M.Pd
Dosen prodi PGSD Unisri Surakarta
TRIBUN-SULBAR.COM- Di tengah sorotan tajam terhadap mutu pendidikan tinggi di Indonesia, kisah seorang dosen muda dari Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) ini menyuguhkan harapan yang cerah. Ia bukan hanya mengajar, tetapi memikirkan ulang cara mendidik generasi muda di era digital. Namanya Prima Trisna Aji salah satu dosen program studi Spesialis Medikal Bedah dari Universitas Muhammadiyah Semarang.
Dalam sebuah podcast bertajuk #BincangUNIMUS, ia membagikan pengalaman yang bukan hanya inspiratif, tapi juga relevan dengan tantangan pendidikan masa kini. Sebagai dosen baru, Prima memilih jalan yang berbeda. Alih-alih terpaku pada pola mengajar konvensional, ia justru merancang pengalaman belajar yang aktif, menarik, dan berbasis teknologi.
Ia memanfaatkan infografis, video pendek, hingga kuis digital real-time dalam proses mengajar. Semua itu dilakukan bukan untuk sekadar tampil modern, tetapi untuk membuat mahasiswa merasa bahwa belajar adalah aktivitas yang bermakna bukan kewajiban semata.
Langkah kecil ini telah membawa dampak besar. Mahasiswa lebih aktif, suasana kelas lebih hidup, dan materi yang rumit menjadi mudah dicerna. Tak heran, pendekatan ini selaras dengan hasil riset terbaru dari Asian Journal of University Education (2025) yang menyatakan bahwa mahasiswa Gen Z lebih tertarik pada pembelajaran interaktif yang berbasis teknologi dan visual.
Dosen yang mampu menyesuaikan metode pengajaran dengan gaya belajar digital terbukti meningkatkan motivasi dan capaian akademik mahasiswa secara signifikan. Namun kisah Dr. Prima tak berhenti di ruang kelas. Ia juga menjadi peneliti aktif dalam pengembangan aplikasi mobile health untuk pasien hipertensi.
Penelitiannya yang menggabungkan edukasi digital, pemantauan tekanan darah, dan pengingat konsumsi obat, berhasil menurunkan tekanan darah pasien secara signifikan dalam studi pilot yang dilakukannya di Karanganyar, Jawa Tengah. Inovasi ini kemudian membawanya meraih penghargaan Best Paper dalam konferensi ilmiah internasional di Malaysia.
Selain mengharumkan nama kota kelahirannya, kampus asal tetapi juga Ia telah mengharumkan nama Bangsa Indonesia dikancah Internasional yang harus kita apresiasi untuk anak muda. Apa yang dilakukan Dr. Prima menunjukkan satu hal penting: inovasi dalam pendidikan tinggi tidak harus dimulai dari kampus besar atau anggaran miliaran. Ia bisa dimulai dari satu dosen, satu ruang kelas, dan satu ide sederhana yang dilandasi kepedulian terhadap
mahasiswa dan masyarakat.
Sayangnya, kisah seperti ini masih menjadi pengecualian, bukan kebiasaan. Banyak dosen muda di berbagai daerah diluar sana yang sebenarnya punya semangat serupa, tapi terhalang oleh keterbatasan infrastruktur, beban administratif yang berat, serta kurangnya dukungan sistemik dari institusi.
Padahal, jika ruang berinovasi dibuka lebar, pendidikan tinggi Indonesia akan melahirkan lebih banyak pendidik yang bukan hanya pintar mengajar, tapi
juga mampu mengubah hidup orang lain. Sudah waktunya kampus-kampus di Indonesia tidak hanya menilai dosen dari angka kredit dan laporan triwulan. Dukungan nyata terhadap inovasi pembelajaran perlu diwujudkan.
Mulai dari pelatihan teknologi pendidikan, penyediaan fasilitas digital yang layak, hingga kebijakan penghargaan bagi dosen yang berprestasi dan berdampak.
Dosen seperti Dr. Prima tak boleh berjalan sendiri. Ia harus menjadi representasi gerakan baru dalam dunia pendidikan tinggi, gerakan dosen pembaharu, bukan hanya pengajar. Dan publik juga harus punya peran didalamnya. Masyarakat berhak tahu bahwa di tengah sorotan negatif terhadap Pendidikan negara ini, masih ada cahaya terang yang menyala dari ruang-ruang kelas kecil, dari kampus-kampus yang mungkin tidak masuk peringkat dunia, tetapi melahirkan karya besar untuk kehidupan nyata.
| Man Behind the Gun Trump: The Domino Effect Reaching Indonesia |
|
|---|
| Tahan Suku Bunga Acuan 4,75 Persen Saat Konflik Timur Tengah Bank Indonesia Sedang Jaga Stabilitas |
|
|---|
| Menjaga Badai Geopolitik |
|
|---|
| Batas Kewenangan dalam Relasi Antar Lembaga Negara |
|
|---|
| Setelah Salim S. Mengga: Siapa Bisa Menyamai, Bukan Sekadar Mengisi? |
|
|---|