Cek Fakta
Cek Fakta: Dana Tambang Raja Ampat Mengalir ke PBNU
Kabar tersebut ramai diperbincangkan di media sosial, khususnya melalui unggahan akun TikTok @tanpadusta.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/LOGO-PBNU-PBNU-Bantah-kabar-menerima-aliran-dana-tambang-Raja-Ampat-dari-PT-GAK-Nikel.jpg)
TRIBUN-SULBAR.COM – Beredar kabar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) disebut menerima aliran dana dari PT Gag Nikel, perusahaan tambang yang beroperasi di Raja Ampat, Papua Barat Daya.
Kabar tersebut ramai diperbincangkan di media sosial, khususnya melalui unggahan akun TikTok @tanpadusta.
Dalam narasi video itu, disebutkan, dana berasal dari seorang bernama Ananda Tohpati, yang dituduh sebagai penyalur dana hasil tambang ke PBNU.
Baca juga: Menangisnya Bumi: Menelisik Dampak Tambang terhadap Lingkungan dalam Perspektif Agama
Ananda juga disebut sebagai anak dari mantan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya.
Akun tersebut mengklaim, Ananda Tohpati, yang dijuluki Andes "Kancil", bertanggung jawab atas pengawasan lima perusahaan tambang di Raja Ampat.
Ia diduga mengumpulkan dana sebesar Rp275 miliar per bulan (setara Rp3,3 triliun per tahun) yang kemudian disalurkan ke berbagai jaringan, termasuk PBNU.
PBNU Bantah Menerima Dana Tambang
Menyikapi informasi tersebut, Bendahara Umum PBNU, Gudfan Arif atau Gus Gudfan, membantah tegas tudingan tersebut.
"Itu tudingan sangat keji," kata Gus Gudfan dalam keterangan tertulis, Jumat (13/6/2025).
Gus Gudfan menegaskan PBNU tidak pernah menerima aliran dana dari PT Gag Nikel maupun dari pihak manapun yang terkait dengan tambang.
Menurutnya, jabatan KH Ahmad Fahrur Rozi (Gus Fahrur) sebagai komisaris di PT Gag Nikel adalah kapasitas pribadi, bukan mewakili PBNU.
"NU tidak pernah menempatkan pengurusnya di perusahaan, baik BUMN maupun swasta. PT Gag bukan milik PBNU. Itu anak perusahaan PT ANTAM," jelasnya.
Ia juga menyatakan, pihaknya tidak memiliki hubungan apa pun dengan Ananda Tohpati, nama yang disebut-sebut dalam narasi unggahan tersebut.
"Kami bisa buktikan dengan data, kami sama sekali tidak pernah menerima aliran dana dari tambang mana pun," ujarnya.
Gus Fahrur: 1.000 Persen Hoaks