Rabu, 22 April 2026

Berita Majene

PENYEBAB Jenazah Warga Ulumanda Majene Ditandu Sejauh 15 Kilometer

Jenazah warga Ulumanda Majene ini sebelumnya dirawat di RS Regional Sulbar di kabupaten Mamuju. 

Tayang:
Editor: Munawwarah Ahmad
zoom-inlihat foto PENYEBAB Jenazah Warga Ulumanda Majene Ditandu Sejauh 15 Kilometer
Anwar Wahab/Tribun-Sulbar.com
TANDU JENAZAH - Akibat infrastruktur yang tak kunjung diperbaiki warga Dusun Lemo-lemo, Desa Ulumanda, Kabupaten Majene, menandu jenazah menuju kediaman sejauh 15 kilometer, Kamis (12/6/2025) 

TRIBUN-SULBAR.COM, MAJENE – Jenazah warga Dusun Lemo-lemo, Desa Ulumanda, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat (Sulbar) terpaksa ditandu sejauh 15 kilometer menuju kediaman, Kamis (12/6/2025).

Jenazah warga Ulumanda Majene ini sebelumnya dirawat di RS Regional Sulbar di kabupaten Mamuju. 

Baca juga: MODUS Pegawai Bank Pelaku Kredit Fiktif di Majene, Dokumen Palsu dan Tanpa Wawancara

Baca juga: Kejari Majene Tetapkan 2 Orang Tersangka Kasus Korupsi Kapal DKP Anggaran Rp 2,1 Miliar

Warga terpaksa menandu jenazah karena jalan ke kampung tersebut rusak parah tidak dapat dilalui kendaraan, termasuk ambulans.

Seorang warga Budiharjo menyebut perjalanan menguras tenaga dan emosi tersebut memakan waktu lebih dari tiga jam.

Puluhan warga secara bergantian memikul tandu sederhana yang dibuat dari bambu dan kain sarung.

Menurutnya, mereka harus menyusuri jalan setapak yang sempit, berlumpur, licin, dan menanjak, hanya dengan penerangan seadanya.

“Ambulans hanya bisa mengantar sampai Dusun Paku, Desa Tandeallo, karena dari sana jalannya sudah tidak bisa dilalui lagi. Kami pikul jenazah ramai-ramai. Tidak ada pilihan lain,” ujar Budiharjo saat dikonfirmasi Tribun-Sulbar.com via telepon, Jumat (13/6/2025).

Peristiwa memilukan ini, kata dia, bukan yang pertama kali terjadi. Kondisi serupa telah berlangsung lama.

Setiap kali ada warga yang sakit, ibu hamil, atau dalam keadaan darurat, warga harus rela menempuh perjalanan serupa, baik untuk mendapatkan pengobatan maupun untuk membawa pasien ke fasilitas kesehatan.

“Kami sudah sering mengalami hal seperti ini. Setiap kali ada yang butuh pertolongan medis, kami harus gotong sendiri. Rasanya kami seperti tidak tinggal di negara yang merdeka,” tambah Budiharjo.

Dari kejadian tersebut, warga berharap pemerintah segera membuka mata dan hati terhadap kondisi yang mereka alami.

“Perbaikan akses jalan menjadi harapan utama, agar tidak ada lagi jenazah yang harus dipikul berjam-jam, dan tidak ada lagi nyawa yang hilang hanya karena terlambat mendapatkan pertolongan medis,” tutupnya.(*)

Laporan Wartawan Tribun-Sulbar.com, Anwar Wahab

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved