Ramadan 2025

Ramadan, Negeri yang Puasa

Tak hanya yang wajib. Ibadah Sunnah pun dilakukannya. Mulai dari Shalat Sunnah, Tadarrusan, hingga berbagi takjil kepada sesama. 

Editor: Nurhadi Hasbi
Istimewa
Muh Yusrang S.H, Ketua IPARI Mamuju Tengah dan Nominator Penyuluh Agama Islam Award Nasional 2023 & 2024 

Apakah dengan kondisi saat ini relate dengan ungkapan tersebut. Kemanakah bangsa besar tersebut yang seharusnya menghargai perjuangan para pahlawannya.

Apakah kondisi ini yang dimaksudkan oleh bung Karno  bahwa “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”. 

Indonesia sejatinya tidak kekurangan orang pintar. Indonesia tidak kekurangan orang yang terdidik. Akan tetapi Indonesia kekurangan orang yang berbudaya luhur.

Sikap korup sama sekali tidak merepresentasikan nilai budaya luhur bangsa kita. Bung Hatta pun pernah menyampaikan kekhawatirannya terkait sikap korup ini. 

Beliau mengatakan, “Jangan biarkan korupsi menjadi bagian dari budaya Indonesia”.

Lebih lanjut beliau pernah berpesan, “Korupsi di Indonesia bisa hilang dengan undang-undang yang ada asalkan para pejabat yang berwenang mau bertindak”. 

Dasar dari pesan pemimpin bangsa ini adalah nilai luhur para penghulu bangsa kita terdahulu. Korupsi bukanlah DNA bangsa kita. 

Ia adalah warisan para sosok tamak dari zaman sejarah hingga era reformasi sampai saat ini. Salah satu bukti bahwa korup bukanlah DNA negara kita.

Sebut saja Tan Malaka. Sosok yang sangat kontroversi di zamannya. Yang dianggap sebagai ancaman bagi kolonial Belanda sehingga ia diasingkan hingga keluar negeri. 

Separuh hidupnya dihabiskan di pengasingan demi memperjuangkan Negeri Indonesia.

Hal itu ditintakan oleh seorang peneliti dan penulis buku Tan Malaka, Harry A Poezze. Beliau mengatakan, Saat masih hidup Tan Malaka mendedikasikan seluruh hidupnya untuk kepentingan bangsa. 

Saat itu, Tan Malaka bahkan sampai rela dipenjara dan dibuang oleh Belanda ke luar negeri pada 1922 karena tindakannya dinilai mengancam kepentingan negeri kolonial di Nusantara.

Tak heran jika ia dijuluki bapak Republik karena ia adalah orang yang pertama kali menggunakan nama Republik Indonesia dalam bukunya Menuju Republik. 

Pemikirannya yang progresif menginspirasi tokoh negara dan pemuda Indonesia untuk berjuang memerdekakan Indonesia.

Di atas adalah Realita jika kita melihat dalam perspektif Nasionalisme. Begitu pula dari sudut pandang agama. 

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved