Sabtu, 23 Mei 2026

Ramadan 2025

Ramadan, Negeri yang Puasa

Tak hanya yang wajib. Ibadah Sunnah pun dilakukannya. Mulai dari Shalat Sunnah, Tadarrusan, hingga berbagi takjil kepada sesama. 

Tayang:
Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Ramadan, Negeri yang Puasa
Istimewa
Muh Yusrang S.H, Ketua IPARI Mamuju Tengah dan Nominator Penyuluh Agama Islam Award Nasional 2023 & 2024 

Tidak tanggung-tanggung, kelompok para penjarah tersebut bersiasat menjarah secara berjamaah. Mereka tersebar menggerogoti di setiap sendi negeri ini. 

Dari sektor logam mulia, minyak bumi, perbankan hingga agama. Dan nilainya cukup fantastis. Menyentuh angka ribuan triliun. 

Sebut saja disektor Migas yang di keruk hingga menyebabkan kerugian negara di kisaran hampir mencapai nilai 1 Kuadriliun, berdasarkan informasi dari kompas. 

Kasus ini menempatkan Pertamina berada di puncak klasemen liga korupsi Indonesia. Saya tak habis pikir jika hukuman mati tidak diberlakukan bagi para pelakunya. 

Menyusul diurutan kedua dari sektor logam mulia yang menyebabkan negara kita merugi hingga 300 Triliun rupiah. Dan di ikuti diposisi ketiga adalah kasus Mega korupsi Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang menyebabkan kerugian negara Indonesia sebesar 138 Triliun.

Lebih lanjut kerugian negara juga disebabkan oleh penyerobotan lahan sawit yang menyebabkan kerugian negara sebesar 78 triliun. Kasus PT Asabri 22,7bTriliun dan Jiwasraya 16,8 triliun. 

Dan terakhir kasus dana LPTQ yang temuannya sekitar 300 juta dari total kerugian 500 juta. Ini dari satu kabupaten saja. 

Belum lagi jika di audit seluruh Indonesia. Mungkin angkanya menyentuh triliunan. Ini hanya asumsi pribadi penulis.  Akan tetapi tidak menutup kemungkinan terjadi di beberapa wilayah di Indonesia.

Dari seluruh data diatas. Jika dikalkulasikan maka nilainya hampir menyentuh angka 2 (dua) kuadriliun. Ini angka yang sangat fantastis jika dibandingkan hutang negara kita saat ini berada diangkat 8.338,34 Triliun atau lebih dari 30 persen atas hutang negara. 

Lantas, yang menjadi pertanyaannya adalah kenapa hal tersebut terjadi di negara yang katanya masyarakatnya agamis, taat dalam beribadah. Negara yang menjunjung tinggi nilai luhur. Negara yang beradab dan berbudaya.

Kemanakah semua identitas itu. Semua problematika politik kebangsaan yang terjadi saat ini menjadi bukti dan pertanda begitu gersangnya Indonesia saat ini. 

Negara kita puasa dari nilai luhur para penguasanya. Diakal mereka hanya kalkulasi ongkos politik yang harus dikembalikan. 

Politik balas Budi yang wajib terbayarkan. Begitu miris bangsa ini.

Figur Penawar Dahaga

Bung Karno pernah mengatakan dalam pidatonya setelah menetapkan tanggal 10 November sebagai hari pahlawan bahwa “Bangsa yang besar adalah Bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved