Pesona Gunung Gandang Dewata, Puncak Tertinggi Sulawesi Barat nan Sarat Mitos
Mengenal Gunung Gandang Dewata, puncak tertinggi Sulawesi Barat yang sarat dengan mitos dan legenda.
Penulis: Noviana Primaresti | Editor: Via Tribun
TRIBUN-SULBAR.COM - Gunung Gandang Dewata merupakan lokasi pendakian populer yang masuk dalam wilayah administrasi tiga kabupaten di Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar), yakni Mamasa, Mamuju, dan Majene.
Diketahui, puncak tertinggi di Sulbar ini memiliki ketinggian hingga 3.037 meter dari permukaan laut (mdpl) dan merupakan daratan tertinggi di gugusan pegunungan Quarles Sulawesi.
Quarles merupakan gugusan gunung batu berhutan tropis, yang membentang di tengah Pulau Sulawesi dari tengah, tenggara, barat, dan selatan Sulawesi.

Puncak gunung tersebut juga tercatat sebagai puncak tertinggi kedua di Sulawesi, setelah Gunung Latimojong di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, yang memiliki ketinggian 3.478 mdpl.
Gunung Gandang Dewata menjadi sorotan setelah ramai kabar dua pendaki yang mengalami kendala di perjalanan pulang, Minggu (13/10/2024).
Baca juga: BPBD Mamasa Kirim Tim 3 ke Pos 6 Gunung Gandang Dewata Tempat Pendaki Alami Trouble
Seperti dilaporkan Tribun-Sulbar.com, selain dikabarkan sakit, bekal dua pendaki tersebut juga telah habis.
Hingga artikel ini diterbitkan, dua pendaki tersebut dilaporkan masih berada di pos enam, yang jarak tempuhnya dari Desa Tondokbakaru kurang lebih dua hari perjalanan.
Saat ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mamasa telah mengirimkan tim untuk melakukan penyelamatan dan membawa turun dua pendaki tersebut.
Adapun identitas pendaki tersebut bernama Taufik Abu Bakar, yang ditemani pendaki lainnya yakni Jiwar Junaintin.
Mitos Gunung Gandang Dewata
Dikutip dari laman resmi Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Barat (BBKSDA Sulsel), keberadaan Gunung Gandang berkaitan erat dengan legenda yang beredar di masyarakat.
Pada zaman dulu, dituturkan bahwa Gandang Dewata mulanya adalah daratan terendah di pulau Sulawesi.
Batu besar berbentuk perahu yang terletak di sekitar puncak gunung tersebut dikatakan sebagai bukti, dan dipercaya merupakan perahu puteri raja yang kandas.

Adapun asal muasal nama Gunung Gandang Dewata adalah dari mitos suara gendang yang sering terdengar di kawasan tersebut.
Secara harfiah, gandang berarti gendang dan dewata berarti dewa.
"Apabila ada seseorang yang masuk hutan dengan tujuan entah mengambil hasil hutan ataupun mendaki, lalu terdengar suara gendang dari puncak gunung, berarti orang tersebut sudah meninggal," bunyi keterangan di laman BBKSDA Sulsel.
Konon katanya, suara gendang tersebut muncul dari bebatuan di area sekitar Taman Nasional Gandang Dewata yang mana bentuknya memang terbilang mirip seperti bentuk gendang.
Baca juga: Kronologi Dua Pendaki Gunung Gandang Dewata Sakit di Pos 6, Hanya Berbekal 3 Mi Instan
Mengenal Gunung Gandang Dewata
Gunung Gandang Dewata resmi ditetapkan sebagai Taman Nasional ke-53 oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), melalui keputusan bernomor SK.773/MENLHK/Setjen/PLA.2/10/2016, tanggal 3 Oktober 2016.
Dikutip dari laman resmi Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Dirjen KSDAE), penetapan Taman Nasional Gunung Gandang Dewata dideklarasikan pada tanggal 5 April 2017 dengan luas 183.078 hektar.
Kawasan Taman Nasional ini membentang dari empat kabupaten Sulawesi Barat, yakni Mamuju, Mamuju Utara, Mamuju Tengah dan Mamasa.
Dikutip dari laman website Desa Tampak Kurra, Taman Nasional Gandang Dewata merupakan salah satu wilayah yang dilalui Garis Wallace, yang memisakan wilayah geografi hewan Asia dan Australasia.
Menurut catatan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada 2013, terdapat 417 jenis burung di Sulawesi dengan 116 di antaranya adalah endemik atau asli di wilayah tersebut.
Adapun jenis satwa yang hidup di taman nasional ini antara Anoa, Elang Sulawesi, Burung Rangkong, Alap-alap, katak endemik, dan kadal yang kemungkinan besar adalah jenis baru.
Sementara itu untuk jenis tumbuhan, terdapat Rotan, Kalpataru, Uruh, dan berbagai jenis Anggrek nan cantik.
Menurut penelusuran tim LIPI, ditemukan tumbuhan dari suku Melastomateceae dari marga Medinilla, Sonerila, Astronia, Dissochaeta, Melastoma dan Creochiton.
Ada juga 11 jenis tumbuhan dari suku Gesneriaceae dari marga Aeschynanthus, Agalmyla dan Cyrtandra, yang seluruhnya merupakan endemik Sulawesi.
Dilansir Tribun-Sulbar.com dari Tribun-Timur.com, jalur menuju puncak gunung tersebut dapat terbilang cukup ekstrem.

Akan tetapi, jalur yang terjal dan curam justru menjadi daya tarik tersendiri bagi para pendaki yang ingin menguji nyali.
Untuk menuju puncak, para pendaki dapat melalui dua jalur yakni lewat jalur Paku, Kecamatan Tabulahan dan jalur Rante Pongko, Kecamatan Mamasa.
Masing-masing jalur memiliki 10 pos pendakian yang bisa menghabiskan hingga tujuh hari perjalanan.
Jalur cukup ekstrem terdapat di antara pos 6 dan 7 jika melalui jalur Paku.

Disebutkan, ada trek menurun yang curam ke arah lembah, dan trek menanjak ke punggungan tinggi.
Meski begitu, daya tarik Gunung Gandang Dewata tak lantas surut, lantaran adanya bentangan indah pemandangan alam yang akan memanjakan mata para pendaki.
(Tribun-Sulbar.com/ Via, Hamsah Sabir)
BREAKING NEWS: Material Longsor Tutup Jalan Poros Mamasa - Polewali di Desa Bombonglambe |
![]() |
---|
Evaluasi Ranperda RPJMD Kabupaten Mamasa 2025–2029, Bapperida Sulbar Beri Masukan Teknis |
![]() |
---|
Senter KIM Jangkau Mamasa, Suraidah Soroti Digitalisasi dan Pendidikan Masa Depan |
![]() |
---|
Polisi Belum Tangkap Pelaku Pencurian Dokumen Disdukcapil Mamasa, Barang Bukti Diamankan |
![]() |
---|
Curi Dokumen di Disdukcapil Mamasa, Pelaku Ingin Jual Akta dan Kartu Keluarga ke Tukang Barang Bekas |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.