Opini

Para "Ghuraba" Bangsa

Pembawa kebenaran dalam hal ini Nabi, itu adalah orang asing atau ghariban, karena ajaran yang Dia bawa tidak familier dengan masyarakat yang dia hada

Editor: Nurhadi Hasbi
Facebook Ilham Sopu
Ilham Sopu 

Penulis: Ilham Sopu

Secara bahasa arti dari "Ghuraba" adalah asing, orang yang Ghuraba adalah orang yang pandangan-pandangannya atau pemikiran-pemikirannya tidak familier di masyarakat, terasa asing, aneh, kurang diminati.

Para pembawa agama awalnya adalah para gurabaa, Nabi Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad Saw, awalnya adalah para gurabaa, yang membawa suatu misi suci atau membawa kebenaran tapi kurang direspon oleh masyarakat tempat dia diutus.

Nabi pernah bersabda, "Islam itu hadir dalam keadaan asing, dan akan kembali menjadi asing sebagaimana semula, maka beruntunglah orang-orang yang asing".

Pernyataan Nabi di atas, bahwa kebenaran yang dia bawa yang merupakan titipan dari Tuhan itu akan ditantang oleh para penguasa yang berkuasa pada waktu itu, para penguasa Quraisy merasa terusik dengan apa yang disampaikan oleh Nabi, karena akan mengganggu eksistensi mereka atau pemahaman yang selama ini mereka pegang menyangkut dalam penyembahan berhala.

Mereka yakin kalau dibiarkan Nabi dalam menyampaikan risalahnya, itu akan terganggu atau terkikis warisan kepercayaan yang didapatkan dari nenek moyang mereka.

Ghuraba atau kebenaran yang di bawa oleh Nabi, dihadapan para kafir Quraisy itu terasa asing, karena mereka sudah lama terkontaminasi dengan faham-faham politeisme sehingga mereka sudah tidak bisa membaca lagi kebenaran-kebenaran yang kepada mereka.

Pembawa kebenaran dalam hal ini Nabi, itu adalah orang asing atau ghariban, karena ajaran yang Dia bawa tidak familier dengan masyarakat yang dia hadapi.

Dan para pejuang kebenaran akan mengalami banyak tantangan, apakah tantangan itu sifatnya internal maupun eksternal. Para penentang Nabi itu kebanyakan dari keluarga Nabi sendiri. Sehingga Nabi merasa berat dalam memperjuangkan kebenaran yang diperjuangkan.

Disamping juga karena sangat sedikit yang membantu Nabi yang berasal dari keluarganya.

Begitulah para "Ghuraba", tidak pernah berhenti dalam menyuarakan kebenaran. Dalam konteks keindonesiaan, perjalanan bangsa pasca kemerdekaan, baik baik pada masa orde lama, orde baru maupun di orde reformasi, banyak terjadi ketimpangan dalam mengelola negara. Dan terjadi dari orde ke orde.

Ketimpangan-ketimpangan yang terjadi di setiap orde, itu selalu saja muncul para ghuraba bangsa yang meneriakkan jalan kebenaran sekalipun jumlahnya sedikit dan tak terlalu dihiraukan oleh penguasa.

Di masa pemerintahan Soekarno sebagai presiden pertama, dan dikenal sebagai Bapak proklamator, punya jasa besar dalam memperjuangkan kemerdekaan, dan juga punya kekurangan dalam perjalanan mengelola negara, Soekarno dikenal dengan demokrasi terpimpinnya, yang banyak mendapat kritikan dari berbagai tokoh bangsa lainnya, seperti Bung Hatta, dan tokoh-tokoh bangsa lainnya, sehingga ada ketidakharmonisan dalam pengelolaan negara.

Begitupun dengan masa orde baru, diawal kepemimpinan Soeharto, yang sebelumnya dikenal sebagai penyelamat negara dari rongrongan PKI, diawal pemerintahannya dapat memenej bangsa dengan baik, namun dalam perjalanannya yang panjang mulai muncul kediktatoran, sehingga terjadi ketimpangan yang cukup parah dalam perjalanan mengelola negara.

Dia menyederhanakan kepartaian menjadi tiga partai, namun fungsi partai di bawah pengawasan pemerintah, Golkar mendapat perhatian khusus dari pemerintah dan kedua partai lainnya, yakni PPP dan PDI diawasi pergerakannya, dihalangi gerakannya, sehingga mereka tidak punya taring dalam mengkritisi pemerintah, pemerintah orde baru memakai politik belah bambu, satu partai diangkat dan kedua partai lainnya diinjak.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved