Kasus Bunuh Diri
Kenapa Kasus Bunuh Diri di Sulbar Marak Terjadi? Ini Jawabannya
Angga Siftufila menyebut porsi bunuh diri jika diperhadapkan masalah hidup berada di kondisi depresi sebesar 50 persen pada gangguan mental.
Penulis: Adriansyah | Editor: Munawwarah Ahmad
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Angga-Siftufila-Helly-Rindi.jpg)
TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU - Kecenderungan orang-orang untuk bunuh diri di Sulawesi Barat marak terjadi dan mengisi ruang pemberitaan akhir-akhir ini.
Psikolog Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sulawesi Barat, Angga Siftufila Helly Rindi dalam Podcast Tribun-Sulbar.com, mengatakan, salah satu penyebabnya adalah rasa depresi cenderung menimbulkan ide bunuh diri.
Ide bunuh diri timbul karena rasa kesepian dan kehilangan minat sosial yang berkepanjangan adalah kepiluan tersendiri, sehingga persoalan hidup berdampak pada angka kasus bunuh diri makin meningkat.
"Kasus bunuh diri semua kalangan remaja hingga dewasa, hingga anak-anak sekalipun," sebutnya, Senin (11/9/2023).
"Setiap kalangan diri angkatan umur tersebut memiliki latar belakang masalah yang berbeda, akan tetapi masalah yang dihadapi ini mesti didukung keluarga, teman khususnya orang tua bila itu adalah remaja," lanjutnya.
Angga Siftufila menyebut porsi bunuh diri jika diperhadapkan masalah hidup berada di kondisi depresi sebesar 50 persen pada gangguan mental.
Masalah ini diantaranya karena asmara bagi remaja, atau tekanan pekerjaan yang tidak terselesaikan serta menuntut dituntaskan tanpa melihat kondisinya dan menghindari masalah.
Padahal dengan menghidari masalah, justru akan menumpuk dialam bawah sadar manusia berupa rasa kesedihan, harapan dan kekecewaan yang menjadi bom waktu.
Hal ini diperparah apalagi masyarakat saat ini mengalami krisis empati atau apatis.
Bagi remaja, pola asuh ini berpengaruh karena harus mendapat dukungan yang baik, sifatnya kasih sayang dari orang tua.
"Secara general remaja masa peralihan, lata orang labil-labilnya termasuk perubahan dari tubuh dan mental yang harus didukung oleh sosial support," jelasnya.
"Pada kondisi kita membutuhkan sikolog, kesehatan mental diri pada fungsi sosial," tuturnya.
Angga menyebutkan manusia punya dua jenis emosi yakni sifatnya positif dan negatif.
Emosi positif yang baik kata dia, mesti ditambah pola hidup sehat yang menandakan mental sedang baik-baik saja.
"Tapi kalau isinya emosi negatif bawaannya malas atau niatnya pengen dikamar aja, sedih, dan kesedihannya berlarut-larut, itu sudah menjadi tanda kalau kesehatan mental bermasalah,"