Opini
MPASI Tinggi Protein Hewani VS Jajanan: Hambatan Pencegahan Stunting & Kerentanan Diabetes Pada Anak
Selain itu, banyak orangtua terperangkap dalam misinformasi terkait bagaimana cara memberikan makan pada anaknya dengan benar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Nutrisionis-Puskesmas-Campalagian-Polewali-Mandar.jpg)
Oleh: Irfan, S.Gz
Nutrisionis Puskesmas Campalagian, Polewali Mandar- Sulbar,
Public Relation Nutrischolar.id
Di tengah derasnya arus Informasi dari berbagai platform media, baik digital maupun non digital, telah menyajikan masalah dan tantangan tersendiri, termasuk perbaikan status gizi anak.
Misalnya, tidak sedikit kita jumpai orangtua sering mengeluhkan kurangnya nafsu makan dan atau anak yang malas makan hingga berdampak pada masalah status gizi anak tersebut.
Selain itu, banyak orangtua terperangkap dalam misinformasi terkait bagaimana cara memberikan makan pada anaknya dengan benar.
Gencarnya bujuk rayu iklan makanan dan minuman instan, akses jajanan manis/asin yang tidak sehat, konten-konten non edukatif yang cenderung menyesatkan pemahaman orangtua tentang cara pemberian makan anaknya menjadi hambatan dan tantangan tersendiri dalam pemenuhan kebutuhan gizi anak.
Anak yang sering terpapar dengan konsumsi jajanan manis atau asin akan mempengaruhi penurunan nafsu makan anak yang tentunya akan berdampak pada tidak terpenuhinya kebutuhan gizi anak tersebut.
Salah satu program yang menjadi fokus pada Intervensi spesifik yang dicanangkan Kementerian Kesehatan RI tahun 2023 dalam percepatan penurunan Stunting yaitu MPASI tinggi protein hewani terutama pada usia 6-23 bulan.
Hal ini disampaikan langsung Menteri Kesehatan RI, Budi G. Sadikin pada saat membuka acara Sosialisasi Kebijakan Intervensi Percepatan Penurunan Stunting yang dilaksanakan Kementerian Kesehatan Jumat (3/2/2023) melalui Live Kanal Youtubenya.
Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) adalah makanan dan cairan tambahan yang diberikan kepada anak usia 6-23 bulan karena ASI saja sudah tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan zat gizi anak di usia tersebut.
Pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) pada anak usia 6-23 bulan mempunyai pengaruh yang sangat menentukan pada status gizi dan tumbuh kembang anak.
Kebutuhan gizi anak sejak usia 6 bulan semakin meningkat seiring dengan keadaan fisiologis, infeksi dan aktivitas fisik anak sehingga tidak cukup keterpenuhannya hanya dari ASI saja.
Sejak usia 6 bulan ASI saja sudah tidak dapat mencukupi kebutuhan energi, protein, zat besi, asam folat, vitamin D, zink, vitamin A, dan lain sebagainya sehingga diperlukan Makanan Pendamping ASI yang dapat melengkapi kekurangan zat gizi makro dan mikro tersebut.
Tidak adekuatnya asupan gizi menyebabkan ketidakseimbangan gizi yang tentunya akan mengakibatkan kekurangan gizi.
Pada anak, masalah kekurangan gizi dampaknya bukan hanya Stunting, tetapi juga akan menghambat potensi kecerdasan dimana perkembangan motorik dan kognitif terhambat, memicu penyakit metabolik saat usia dewasa dan menurunkan produktivitas yang akan memberikan efek domino keberbagai jenis masalah kemanusiaan nantinya.