Selasa, 14 April 2026

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Sejarah "Saeyyang Pattuqdu" di Mandar

Saeyyang Pattuqdu atau Kuda Menari salah satu tradisi suku Mandar di Provinsi Sulawesi Barat.

Tayang:
zoom-inlihat foto Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Sejarah "Saeyyang Pattuqdu" di Mandar
Tribun Sulbar / Masdin
Salah satu kuda menari meriahkan Festival Missawe Sayyang Pattudu di depan Stadion Prasamya, Kecamatan Banggae Timur, Kabupaten Majene, Kamis (11/8/2022). 

TRIBUN-SULBAR.COM - Saeyyang Pattuqdu atau Kuda Menari salah satu tradisi suku Mandar di Provinsi Sulawesi Barat.

Tradisi ini, akan dilakukan setiap memasuki peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW jatuh setiap tanggal 12 Rabiul Awal pada penanggalan hijriyah.

Tahun ini, Maulid Nabi Muhammad SAW diperingati besok, Sabtu 8 Oktober 2022.

Adapun makna peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah sebagai bentuk penghormatan kepada Rasulullah.

Perayaan Maulid Nabi dinilai sebagai momen untuk mengingat, mengahayati dan memuliakan kelahiran Rasulullah.

Allah SWT pernah berfirman perihal keutamaan memuliakan dan mencintai Nabi Muhammad SAW dalam surat Al A'raf ayat 157,

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ ۚ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ ۙ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya: "(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis) yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka, yang menyuruh mereka berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka, dan membebaskan beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur'an), mereka itulah orang-orang beruntung."

Masyarakat mandar sendiri memperingati maulid Nabi Muhammad SAW dengan tradisi sejak turun temurun melalui arak-arakan Saeyyang Pattuqdu atau kuda menari.

Dikutip antro.fisip.unair.ac.id kesenian Tuqduq mulai dikenal oleh masyarakat Mandar sejak abad ke-10.

Saeyyang Pattuqduq berarti kuda yang menari atau arak-arakan kuda merupakan tarian yang dilakukan sebagai hadiah orang tua Mandar terhadap anak-anak Mandar yang sudah mengkhatamkan kitab suci Al-Quran.

Saat ini, tarian tersebut juga dilakukan ketika masyarakat Mandar kedatangan tamu atau memiliki hajat.

Mandar pada abad XVI adalah istilah “persekutuan” antar tujuh kerajaan pesisir pantai dan tujuh kerajaan di pegunungan Sulawesi Barat. Konfederasi ke-14 kerajaan (Pitu Ba’bana Binanga Pitu Ulunna Salu) melahirkan suatu etnis, Mandar.

Suku Mandar bermukim di Sulawesi Barat dan sebagian lainnya di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah. Menurut catatan “Het Landschap Balanipa” orang Mandar dideskripsikan sebagai orang dengan hati tinggi, sopan, mudah tersinggung, mudah cemburu, berkuasa, memegang teguh tradisi, menghargai tamu, pemberani, seringkali memilih titik strategis dalam peperangan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved