Opini

BBM Naik, Dampaknya Apa dan Kita Harus Bagaimana?

Pemerintah akhirnya memutuskan untuk melakukan penyesuaian (baca : kenaikan) harga bahan bakar minyak (BBM) mulai dari Pertalite, Solar dan Pertamax.

Tribun-Sulbar.com/Abd Rahman
Suasana antrian pengisian BBM di SPBU Simbuang Mamuju, Jl Jenderal Sudirman, Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar), Selasa (23/8/2022). 

Oleh Eka Khaerandy Oktafianto, S.ST, M.Si
Statistisi Ahli Muda di BPS Provinsi Sulawesi Barat

TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU - Pemerintah akhirnya memutuskan untuk melakukan penyesuaian (baca : kenaikan) harga bahan
bakar minyak (BBM) mulai dari Pertalite, Solar dan Pertamax. Harga terbaru per Sabtu, 3 September 2022 pukul 15.30 WITA adalah Rp 10.000,- untuk jenis Pertalite, Rp 14.500,- untuk jenis Pertamax dan Rp 6.800 untuk jenis Solar. Hal ini diikuti kenaikan pula pada level pedagang BBM eceran.

Pada sejumlah titik di Kota Mamuju, secara acak terlihat bahwa di depot Pertamini harga Pertalite sudah naik menjadi Rp 11.500 per liter dan di kios kios sudah menjual dengan harga Rp 12.000 per liter.

Presiden joko Widodo (Jokowi) menegaskan telah melakukan berbagai upaya untuk menahan harga BBM naik ditengah tekanan kenaikan harga minyak dunia. Jokowi mengaku tetap ingin agar harga BBM tetap berada pada level saat ini.

Namun, Jokowi menegaskan kas keuangan negara sudah menanggung beban yang cukup berat, karena beban subsidi BBM yang naik hingga tiga kali lipat. Mentri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa anggaran subsidi dan kompensasi energy akan membengkak sebesar Rp 198 trilliun jika tidak ada kenaikan harga BBM. Padahal saat ini posisi anggaran subsidi dan kompensasi energy untuk 2022 telah dipatok sebesar Rp502,4 trilliun.

Apa dampak kenaikan BBM ini?

BBM adalah komoditas yang digunakan pada kendaraan bermotor sebagai sarana transportasi. Kenaikan BBM ini akan memici kenaikan harga atau inflasi. Karena mayoritas konsumen adalah pengguna pertalite dan solar, maka pasti akan menyulut inflasi. Efek langsung paling pertama yang akan terkena dampak kenaikan BBM adalah terjadinya peningkatan biaya tranportasi.

Dengan meningkatnya transportasi, akan meningkatkan harga bahan bahan baku kebutuhan masyarakat dan industri karena sebagian besar bahan baku berasal luar provinsi, sehinga akan meningkatkan harga-harga lainnya. Seperti rilis data dari BPS Sulawesi Barat dari data Pola Distribusi Komoditas Startegis (POLDIS), beberapa komoditas ada yang berasal dari luar wilayah Sulawesi Barat, seperti beras, minyak goreng, telur ayam ras, dll.

Meski belum bisa diukur dengan pasti, namun menurut beberapa pakar Fahmi Radhi dari UGM mengatakan bahwa secara nasional kontribusi kenaikan BBM terhadap laju inflasi akan mencapai 0,97 persen dan tahun berjalan bisa mencapai angka 6 persen, ungkap Fahmi seperti dikutip dari Kompas.com.

Berikutnya, kenaikan BBM ini akan memicu penurunan daya beli masyarakat, karena upah/gaji/penghasilan warga yang tidak meningkat, maka otomatis akan menurunkan daya beli. Penurunan daya beli ini akan menurunkan pertumbuhan ekonomi Sulawesi Barat. Menurut data BPS yang disampaikan saat rilis Pertumbuhan Ekonomi Triwulan II pada 05 Agustus 2022 lalu, kepala BPS Sulawesi Barat menyampaikan bahwa Struktur PDRB pengeluaran, sektor Konsumsi Rumah Tangga memberikan kontribusi tertinggi dibanding sektor lain sebesar 50,85 persen.

Hal ini terkait juga dengan daya beli. Dengan adanya kenaikan harga ini akan menurunkan daya beli sehingga berpotensi menurunkan share/kontribusi sektor Konsumsi Rumah Tangga sehingga akan menurunkan pertumbuhan ekonomi.

Kita harus bagaimana?

Dari sisi individu, secara teori ketika terjadi kenaikan harga maka kita harus menaikan pendapatan agar pola konsumsi terjaga. Namun hal ini tidak bisa dilakukan dalam jangka pendek. Maka yang dapat dilakukan diantaranya adalah berhemat, diantaranya adalah mengurangi konsumsi/jajan di luar rumah dengan menggantinya dengan masak di rumah, karena data dari BPS dari survei sosial ekonomi nasional (SUSENAS) Maret 2021, pengeluaran masyarakat untuk makanan dan minuman jadi cukup besar yaitu sebesar 15,63 persen.

Pengeluaran pembelian makanan dan minuman jadi ini menempati posisi kedua terbesar. Kemudian opsi berikutnya adalah lebih mindful dalam penggunaan listrik, air dan gas karena pengeluaran ini termasuk dalam kategori proporsi pengeluaran terbesar masyarakat terbesar bersama perumahan dengan konstribusi sebesar 26,33 persen.. Kemudian opsi berikutnya adalah mengurangi konsumsi rokok, karena rokok menempati proporsi pengeluaran masyarakat terbesar ketiga yaitu sebesar 6,06 persen. Selain itu, mengurangi rokok, juga bisa meningkatkan kesehatan dan mencegah penyakit. Itu dalam jangka pendek, dalam jangka menengah kita bisa mencoba mencari tambahan income diluar penghasilan kita saat ini.

Dari sisi pemerintah, dalam jangka waktu dekat untuk menjaga daya beli dan mencegah kemiskinan, maka opsi pemberian bantuan kepada warga miskin bisa dicoba, dalam jangka menengah-panjang pemerintah bisa mengoptimalkan pemasukan negara agar bisa memberikan subsidi BBM yang lebih banyak sehingga bisa menurunkan kembali harga BBM.(*)

  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved