Burung Maleo
Pemerhati Harap Burung Maleo Tidak Hanya Dijadikan Ikon
Dikatakan, tim jaga Maleo akan mencoba melakukan hearing dengan DPRD Sulbar dalam waktu dekat terkait hal tersebut.
Penulis: Habluddin Hambali | Editor: Nurhadi Hasbi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Sepasang-Burung-Maleo-bertelur-di-Pasir-pantai.jpg)
TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU -Tim jaga Maleo terus melakukan sosialisasi dan edukasi pentingnya menjaga habitat Burung Maleo.
Utamanya di Kabupaten Mamuju sebagai Ibukota Provinsi.
Menjaga habitat Burung Maleo, kata dia, sangat penting, sehingga tidak hanya dijadikan ikon.
Baca juga: Apakah Melestarikan Burung Maleo di Mamuju Terlambat?, Begini Penjelasan Tim Jaga Maleo
Baca juga: KENAPA Ridwan dan Yusuf Wahil Mau Dokumentasikan Burung Maleo Terancam Punah?
"Ini mesti massif dilakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat," kata anggota tim jaga Maleo Ridwan Alimuddin, saat hadir di podcast Tribun-Sulbar.com di Jl Martadinata, Kecamatan Simboro, Mamuju, Sulbar, Rabu (3/8/2022).
Ridwan menurutkan, gerakan tersebut mulai dilakukan sejak tahun 2020.
Bahkan, mereka sudah membuat penangkaran manual di Desa Tapandullu, Kecamatan Simboro, Mamuju, Sulbar.
Setidaknya, lanjut Ridwan, ada enam telur Burung Maleo sedang berada di penangkaran tersebut.
"Maleo itu hewan liar yang tidak bisa dipelihara kayak ayam dan hewan lainnya," ungkap Ridwan.
Karena itu, penangkarannya harus lebih luas dan di situ ada hutan tropik serta memiliki pasir.
Dikatakan, tim jaga Maleo akan mencoba melakukan hearing dengan DPRD Sulbar dalam waktu dekat terkait hal tersebut.
"Nah di Tapandullu ini kan wisata, ini bisa menjadi nilai ekonomi bagi warga, seperti dibuat baju ada gambar Maleonya dan cinderamata lainnya," bebernya.(*)
Laporan wartawan TRIBUN-SULBAR.COM, Habluddin