Opini
Menyoal Kondisi Terkini Ekspor Sulbar
Dari informasi yang telah dirilis tersebut, komoditas ekspor Sulbar pada bulan Februari 2022 seluruhnya berasal dari komoditas barang nonmigas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Eka-Khaerandy-Oktafianto-SST-MSi-Statistisi-Muda-Pada-BPS-Provinsi-Sulbar.jpg)
Oleh Eka Khaerandy Oktafianto, S.ST, M.Si
Statistisi Muda Pada Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Barat
BADAN Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulbar belum lama ini telah merilis Berita Resmi Statistik (BRS) BPS Provinsi Sulbar.
Ada beberapa indikator yang dirilis di antaranya adalah kondisi perdagangan luar negeri Provinsi Sulbar.
Indikator yang dirilis ini merupakan hasil kompilasi data transaksi perdagangan antarnegara seperti transaksi ekspor.
Data statistik ekspor merupakan data realisasi dari transaksi perdagangan yang bersumber dari dokumen Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) yang disahkan oleh Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC).
Dari informasi yang telah dirilis tersebut, komoditas ekspor Sulbar pada bulan Februari 2022 seluruhnya berasal dari komoditas barang nonmigas.
Pada bulan Februari 2022, nilai ekspor Sulbar mencapai US$1,86 juta. Angka ini turun 97,35 persen dibandingkan dengan bulan Januari 2022 yang tercatat sebesar US$70,01 juta.
Penurunanan ini disebabkan oleh menurunnya ekspor kelompok barang nonmigas berupa hasil industri sebesar 99,87 persen.
Komoditas yang diekspor dari Provinsi Sulbar di antaranya adalah komoditas kakao, bahan nabati untuk anyam-anyaman, lak, getah, dan damar, berbagai produk kimia, serat tekstil dan benang kertas, bahan nabati untuk anyam-anyaman, serta barang kiriman.
Jika dibandingkan bulan sebelumnya, nilai ekspor kakao pada Februari 2022 turun sebesar 2,42 persen, dari US$0,69 juta pada bulan Januari 2022 menjadi US$0,67 juta pada bulan Februari 2022.
Untuk komoditas berbagai produk kimia, nilai ekspor pada Februari 2022 tercatat sebesar US$0,08 juta atau mengalami penurunan sebesar 98,47 persen dibandingkan bulan Januari 2022 yang tercatat sebesar US$5,16 juta.
Sedangkan komoditas bahan nabati untuk anyam-anyaman dan lak, getah, serta damar pada bulan sebelumnya tercatat tidak ada ekspor.
Tiga negara tujuan utama ekspor Sulbar pada Februari 2022 adalah Jepang, Malaysia, dan Vietnam.
Dari total nilai ekspor selama Februari 2022 sebesar US$1,86 juta, nilai ekspor ke Jepang mencapai US$0,94 juta (50,82 persen), Malaysia mencapai US$0,67 juta (36,04 persen), Vietnam sebesar US$ 0,07 juta (4,01 persen), dan sisanya ke negara lain semisal India, Pakistan, USA, Taiwan, China, dan Belanda.
Kabar Baik dan Tidak Baik
Dari fenomena ekspor Februari 2022 ini ada hal yang menarik untuk dibahas.
Ada yang baik dan ada yang tidak baik. Kita mulai dari yang tidak mengenakkan terlebih dahulu.
Bahwa dari berita resmi ekspor tersebut terdapat penurunan ekspor dari Sulbar yang cukup parah mencapai 97,35 persen.
Tentu merupakan kabar tidak baik.
Hal ini disebabkan oleh menghilangnya (tidak adanya) ekspor komoditas lemak dan minyak hewani/nabati, seperti olein, stearin, refined palm oil, dan lainnya.
Seperti yang dimaklumi bersama bahwa komoditas inilah (istilah umumnya adalah CPO) yang selama ini menjadi salah satu penyumbang mayoritas terhadap ekspor komoditas dari Sulbar.
Penurunan ini disebabkan oleh adanya kebijakan pembatasan ekspor CPO ke luar negeri oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag), yaitu penetapan Domestic Market Obligation (DMO).
Kemendag melakukan kebijakan wajib pasok kebutuhan dalam negeri atau DMO minyak sawit yang sebelumnya 20 persen dinaikkan menjadi 30 persen dari volume ekspor CPO dan turunannya.
“Semua yang akan diekspor mesti menyerahkan DMO 30 persen”, ujar Mendag Muhammad Luthfi dalam keterangan resminya.
Hal ini dilakukan karena distribusi bahan baku untuk industri minyak goreng saat ini belum normal. Hal ini tentunya berakibat terhadap tertahannya ekspor CPO dan turunannya di Sulbar.
Selanjutnya, kabar baiknya bahwa di Sulbar dapat memunculkan produk komoditas ekspor baru di tengah pembatasan ekspor CPO dan turunannya.
Pada Februari 2022, terdapat ekspor komoditas coconut fibres and abaca fibres atau serabut kelapa dan komoditas natural gums, resis, gun-resins and oleoresins, etc. atau getah pinus.
Untuk komoditas serat kelapa, Sulbar pertama kalinya mengekspornya ke China senilai US$11,02 ribu dan untuk komoditas getah pinus berhasil diekspor ke Kawasan Timur Tengah dan Vietnam senilai US$0,153 juta.
Sebagai bentuk dukungan, Gubernur Sulbar, Ali Baal Masdar, bersama Tim Sekretariat Kepresidenan RI melakukan kunjungan ke pabrik produksi getah pinus yang ada di Kabupaten Polewali Mandar. PT KHBL (Kencana Hijau Bina Lestari).
Beliau menekankan, “Petani pinus khususnya di Sulbar harus menjual hasil pertaniannya ke PT KHBL, hal ini dilakukan untuk memajukan perekonomian Sulbar melalui ekspor komoditas tersebut.”
Upaya yang Perlu Dilakukan
Bahwa ekspor komoditas CPO dan turunanya ini adalah penyumbang ekspor terbesar sekaligus penyumbang perekonomian terbesar Sulbar.
Jika ekspor terhambat dalam waktu lama, maka juga akan berdampak pada melambatnya pertumbuhan perekonomian Sulbar.
Oleh karena itu, pemberlakuan kenaikan DMO dari 20 persen ke 30 persen ini apakah benar memberi solusi kelangkaan minyak goreng atau justru menambah masalah baru.
Masalah kelangkaan minyak goreng bisa jadi pada rantai pasokan/distribusi di lapangan yang tersendat karena banyaknya penimbunan yang dilakukan oknum distributor.
Hal ini terbukti bahwa persediaan minyak goreng ternyata banyak ditemukan setelah harga disesuaikan. Pemerintah seharusnya bisa mencabut kebijakan pemberlakuan kenaikan DMO.
Selanjutnya, mengenai komoditas ekspor baru. Langkah pemerintah Sulbar sudah cukup baik dengan dukungannya.
Akan tetapi, perlu terus dikembangkan dengan berbagai komoditas lain yang potensial di Sulbar. Jangan bergantung terhadap beberapa komoditas saja.
Padahal, masih banyak komoditas yang bisa terus didukung dan bisa menjadi salah satu komoditas unggulan untuk diekspor. (*)