Senin, 11 Mei 2026

Virus Omicron

WHO Update Informasi Terbaru Virus Omicron, Tingkat Keparahan, Efektivitas Vaksin dan Studi Terkini

Berikut ini adalah update terbaru dari WHO tentang varian baru virus corona, Omicron.

Tayang:
Penulis: Suandi | Editor: Ilham Mulyawan
zoom-inlihat foto WHO Update Informasi Terbaru Virus Omicron, Tingkat Keparahan, Efektivitas Vaksin dan Studi Terkini
kompas.com
ILUSTRASI Tes Covid-19 menggunakan alat tes swab antigen atau tes PCR yang bisa dilakukan saat curiga terpapar Covid-19. 

TRIBUN-SULBAR.COM - Varian baru virus corona yaitu Omicron telah memicu kekhawatiran global sebab mutasi genetik yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Varian ini pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan khususnya di provinsi Gauteng yang mencakup kota Johannesburg dan Pretoria.

Per Jumat (26/11/2021) Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan varian B.1.1.529 atau Omicron sebagai variant of concern (VOC).

WHO mengklasifikasikan Omicron ke dalam VOC sebab varian baru ini memiliki mutasi yang cepat, tingkat keparahan penyakit serta efektivitas vaksin terhadap virus ini.

Akan tetapi, WHO berujar jika belum ada kejelasan soal virus Omicron apakah penyebarannya dari orang ke orang lebih cepat daripada varian lainnya termasuk varian Delta.

ILUSTRASI Varian Omicron (B.1.1.529). Dokter di Afrika Selatan yang pertama kali menyadari ada varian baru Covid-19 mengatakan, gejala varian Omicron sangat ringan seperti infeksi virus umumnya.
ILUSTRASI Varian Omicron (B.1.1.529). Dokter di Afrika Selatan yang pertama kali menyadari ada varian baru Covid-19 mengatakan, gejala varian Omicron sangat ringan seperti infeksi virus umumnya. (kompas.com)

Baca juga: Update Capaian Vaksinasi Covid-19 di Mamuju 56,91 Persen, Tertinggi di Sulbar

Baca juga: Satgas COVID-19 BNPB Pantau Kesiapan Asrama untuk Karantina Jamaah Umrah Indonesia

Gejala varian Omicron

Dr Angelique Coetzee selaku penemu pertama kali virus Omicron mengatakan jika ia melihat pasien dengan gejala varian Omicron pertama kali pada tanggal 18 November.

Coetzee mengatakan pasien yang terinfeksi Omicron memiliki gejala seperti tenggorokan gatal tetapi tidak batuk atau kehilangan rasa dan bau.

Ia menyampaikan gejala Omicron cenderung ringan, seperti tubuh lelah selama dua hari, nyeri tubuh serta sakit kepala.

Infeksi awal yang dilaporkan terjadi di antara orang berusia muda, yaitu di bawah usia 40 tahun.

Sampai dengan saat ini, WHO juga masih belum memiliki kejelasan terkait dengan penularan virus corona varian baru ini.

Masih belum jelas apakah Omicron jauh lebih menular jika dibanding dengan varian lain.

Keparahan penyakit

Terkait dengan tingkat infeksi, WHO juga menyampaikan bahwa belum ada kejelasan soal infeksi Omicron menyebabkan penyakit yang lebih parah dibandingkan infeksi varian lain.

Data awal menunjukkan, terjadi peningkatan tingkat rawat inap di Afrika Selatan.

Namun, belum bisa dipastikan juga apakah peningkatan tersebut sebagai akibat infeksi spesifik varian Omicron.

Terjadinya peningkatan itu mungkin disebabkan oleh peningkatan jumlah keseluruhan orang yang terinfeksi.

Butuh waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu untuk mengetahui dan memahami tingkat keparahan varian Omicron.

Orang yang sudah pernah terinfeksi Covid 19 akan jauh lebih mudah terinfeksi varian Omicron. Sayangnya, infromasi akan hal tersebut masih terbatas.

Semua varian Covid 19, terbukti menyebabkan penyakit parah bahkan kematian. Terutama bagi kelompok rentan.

Efektivitas vaksin

Masih belum diketahui bagaimana efektivitas vaksin dalam melawan virus corona jenis baru, Omicron.

Tapi, WHO menegaskan bahwa setiap vaksin tetap penting untuk mencegah penyakit memburuk dan kematian.

Hingga kini, vaksin tetap efektif melawan penyakit parah dan kematian.

Efektivitas tes saat ini

Tes polymerase chain reaction (PCR) saat ini memang digunakan sebagai tes untuk mendeteksi infeksi virus corona, termasuk Omicron.

Studi masih terus berlangsung untuk mengetahui apakah varian ini berpengaruh terhadap jenis tes tertentu, termasuk rapid tes antigen.

Efektivitas pengobatan saat ini

Kortikosteroid dan IL6 Receptor Blocker masih akan efektif untuk menangani pasien dengan COVID-19 yang parah.

Perawatan lain akan dinilai untuk melihat apakah masih efektif mengingat perubahan pada bagian virus dalam varian Omicron.

Studi tentang Omicron

Saat ini, WHO tengah berkoordinasi dengan sejumlah besar peneliti di seluruh dunia untuk lebih memahami Omicron.

Studi yang berlangsung saat ini termasuk penilaian penularan, tingkat keparahan infeksi, kinerja vaksin dan tes diagnostik serfta efektivitas pengobatan.

WHO mendorong negara-negara untuk berkontribusi dalam pengumpulan dan pembagian data pasien rawat inap melalui Platform Data Klinis WHO COVID-19 untuk menggambarkan karakteristik klinis dan hasil pasien dengan cepat.

Informasi lebih lanjut akan muncul dalam beberapa hari dan minggu mendatang. TAG-VE WHO akan terus memantau dan mengevaluasi data yang tersedia dan menilai bagaimana mutasi pada Omicron mengubah perilaku virus.

(Tribun-Sulbar.com/Al Fandy Kurniawan)

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved