Virus Omicron
WHO Update Informasi Terbaru Virus Omicron, Tingkat Keparahan, Efektivitas Vaksin dan Studi Terkini
Berikut ini adalah update terbaru dari WHO tentang varian baru virus corona, Omicron.
Penulis: Suandi | Editor: Ilham Mulyawan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Tes-RT-PCR.jpg)
TRIBUN-SULBAR.COM - Varian baru virus corona yaitu Omicron telah memicu kekhawatiran global sebab mutasi genetik yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Varian ini pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan khususnya di provinsi Gauteng yang mencakup kota Johannesburg dan Pretoria.
Per Jumat (26/11/2021) Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan varian B.1.1.529 atau Omicron sebagai variant of concern (VOC).
WHO mengklasifikasikan Omicron ke dalam VOC sebab varian baru ini memiliki mutasi yang cepat, tingkat keparahan penyakit serta efektivitas vaksin terhadap virus ini.
Akan tetapi, WHO berujar jika belum ada kejelasan soal virus Omicron apakah penyebarannya dari orang ke orang lebih cepat daripada varian lainnya termasuk varian Delta.
Baca juga: Update Capaian Vaksinasi Covid-19 di Mamuju 56,91 Persen, Tertinggi di Sulbar
Baca juga: Satgas COVID-19 BNPB Pantau Kesiapan Asrama untuk Karantina Jamaah Umrah Indonesia
Gejala varian Omicron
Dr Angelique Coetzee selaku penemu pertama kali virus Omicron mengatakan jika ia melihat pasien dengan gejala varian Omicron pertama kali pada tanggal 18 November.
Coetzee mengatakan pasien yang terinfeksi Omicron memiliki gejala seperti tenggorokan gatal tetapi tidak batuk atau kehilangan rasa dan bau.
Ia menyampaikan gejala Omicron cenderung ringan, seperti tubuh lelah selama dua hari, nyeri tubuh serta sakit kepala.
Infeksi awal yang dilaporkan terjadi di antara orang berusia muda, yaitu di bawah usia 40 tahun.
Sampai dengan saat ini, WHO juga masih belum memiliki kejelasan terkait dengan penularan virus corona varian baru ini.
Masih belum jelas apakah Omicron jauh lebih menular jika dibanding dengan varian lain.
Keparahan penyakit
Terkait dengan tingkat infeksi, WHO juga menyampaikan bahwa belum ada kejelasan soal infeksi Omicron menyebabkan penyakit yang lebih parah dibandingkan infeksi varian lain.
Data awal menunjukkan, terjadi peningkatan tingkat rawat inap di Afrika Selatan.