Fakta Tentang Menguap: Mengapa Menular dan Cara Berhenti
Menguap dapat menular, dan biasanya kita menganggap bahwa ketika menguap ada indikasi kelelahan.
Penulis: Suandi | Editor: Muhammad Husain Sanusi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Menguap-2.jpg)
Perilaku lain yang termasuk dalam kategori ini adalah menggaruk, menyilangkan kaki, dan tertawa.
Lebih lanjut, Giordano menambahkan, perilaku ini dapat dikaitkan dengan neuron cermin di otak.
"Apa yang melibatkan neuron ini adalah mencocokkan apa yang kita rasakan dengan cara kita bergerak," ucapnya.
Tak hanya itu, seperti yang dilansir oleh houstonmethodist.org, para ahli meyakini bahwa menguap memainkan peran dalam komunikasi sosial.
Meskipun demikian, tak ada kejelasan terkait apa yang benar-benar dikomunikasikan melalui menguap.
Namun, sebagian ahli juga meyakini jika menguap bisa menular karena menjadi cara untuk menujukkan empati dan mencocokkan keadaan emosional di antara orang-orang.
Cara berhenti menguap
1. Tarik nafas dalam-dalam
Dikutip dari healthline.com, jika menguap secara berlebihan, maka cobalah latihan pernapasan dalam melalui hidung.
Mungkin, tubuh membutuhkan lebih banyak oksigen.
Terlebih lagi, pernapasan hidung juga menurunkan menguao menular sepenuhnya.
2. Bergerak
Perasaan lelah, bosan, dan stres cenderung membuat orang lebih banyak menguap.
Selain itu, mengonsumsi banyak kafein juga dapat menyebabkan menguap.
Maka, hal yang bisa dilakukan dengan menggerakkan tubuh kalian atau menghentingkan sejenak aktivitas anda.
Guna mendinginkan otak.
3. Dinginkan dirimu
Mencari tempat dengan suhu yang lebih sejuk sepertinya menjadi cara yang bisa dibilang efektif untuk berhenti menguap.
(Tribun-Sulbar.com/Al Fandy Kurniawan)