Fakta Tentang Menguap: Mengapa Menular dan Cara Berhenti
Menguap dapat menular, dan biasanya kita menganggap bahwa ketika menguap ada indikasi kelelahan.
Penulis: Suandi | Editor: Muhammad Husain Sanusi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Menguap-2.jpg)
TRIBUN-SULBAR.COM - Rata-rata orang dewasa menguap 20 kali per hari.
Dan ketika menguap, hampir tidak mungkin untuk menahannya.
Kita biasanya menganggap menguap sebagai indikasi bahwa kita lelah.
Hal yang membingungkan dari menguap adalah bisa menular.
Faktanya, itu memang sangat menular.
Dikutip dari houstonmethodist.org pada Selasa (7/9/2021), para ahli kemudian mengklasifikasikan menguap menjadi dua jenis, yakni:
- Menguap spontan atau menguap yang terjadi dengan sendirinya.
- Menguap menular atau menguap yang terjadi setelah melihat orang lain melakukannya.
Sejatinya, menguap merupakan cara untuk mengatur suhu otak.
Seperti yang diketahui, otak akan bekerja dengan baik apabila suhunya optimal.
Ketika otak menjadi hangat, maka tubuh akan merespons dengan berkeringat, melebarkan atau menyempitkan pembuluh darah, dan memicu perilaku yang menyebabkan mencari udara yang lebih dingin atau hangat.
Teori termoregulasi otak menunjukkan menguap merupakan mekanisme lain untuk membantu mendinginkan tubuh, khususnya untuk mendinginkan otak.
Namun, kebanyakan orang masih menyangkal terhadap teori menguap yang mendinginkan otak.
Lantas mengapa menguap bisa menular?
Dikutip dari pbs.org, James Giordano, Ahli Saraf dari Universitas Georgetown mengatakan, penularan menguap terkait fenomena yang disebut dengan pencerminan sosial.