Breaking News:

Opini

Dari Penjara, ke Penjara

Kemerdekaan pada tahun 1945 telah mengganti kebijakan sebelumnya yang awalnya merupakan hukuman keji berubah menjadi hukuman yang lebih manusiawi.

Ist/Tribun-Sulbar.com
Muhammad Sadli Sukri 

Oleh: Muhammad Sadli Sukri
CASN Rutan Mamuju

“Barang siapa yang menghendaki kemerdekaan buat umum, maka ia harus sedia dan ikhlas
untuk menderita kehilangan kemerdekaan diri-(nya) sendiri”. (Tan Malaka)

Kehidupan di Penjara tidak seperti kehidupan pada umumnya, semuanya serba terbatas. Konsep Penjara sebagai tempat bagi pelaku kriminal, sudah ada sejak abad ke-19 di Hindia Belanda.

Tampak jelas pada pasal 10 Wetbok van Stafrecht voor de inlanders in Nederlansch indie atau Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) yang terbit 1872.

Saat itu, penjara lebih dikenal dengan sistem kerja paksa, penindasan dan penuh dengan penyiksaan. Namun, makin ke sini, terjadi transformasi dalam sistem kepenjaraan.

Dalam perkembangannya yang menduduki pucuk pimpinan pegawai penjara kebanyakan berkebangsaan Belanda. Para pegawai saat itu memiliki sifat otoritarian kepada bawahannya sehingga cenderung melakukan penindasan untuk pegawai rendahan.

Hal itulah yang diturunkan kepada Narapidana. Tidak jauh beda dengan sistem kepenjaraan pada zaman bala tentara Jepang (1942-1945).

Pada periode ini sistem yang harusnya berdasar kepada reformasi namun kenyataannya, para terpidana hanya dimanfaatkan atau dieksploitasi untuk kepentingan Jepang.

Kemerdekaan pada tahun 1945 telah mengganti kebijakan sebelumnya yang awalnya merupakan hukuman keji berubah menjadi hukuman yang lebih manusiawi.

Dahulu, penjara dikenal sebagai tempat untuk menyiksa bahkan sampai membunuh, kini menjadi tempat layaknya mendidik para pelanggar hukum.

Halaman
123
Editor: Hasrul Rusdi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved