Festival Kota Tua Majene
Sejarah Taman Kota Majene, Pendaratan Pertama Pasukan Kolonial Belanda
Taman Kota Majene selain dijadikan tempat bersantai, juga sebagai tempat olahraga, jalan santai dan lainnya.
Penulis: Nasiha | Editor: Munawwarah Ahmad
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Prasasti-di-Taman-Kota-Majene.jpg)
Mengingat, Kabupaten Majene masih berada di zona Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), 3 - 9 Agustus 2021.
Hal ini sesuai Instruksi Menteri Dalam (Inmendagri) Negeri Nomor 29 tahun 2021 terkait PPPKM level 3, level 2 dan level 1 tertanggal 2 Agustus 2021.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Majene Andi Beda Basharoe mengatakan, ebagai tuan rumah akan persiapkan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.
"Antisipasinya semua virtual. Jadi kegiatan-kegiatannya itu semua virtual mulai dari pembukaan hanya dihadiri 30 orang," ujarnya kepada Tribun-Sulbar.com di Lantai Dua Kantor Bupati Majene, Selasa (3/8/2021).
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno juga akan hadir secara virtual.
Sejumlah agenda kegiatan nantinya juga akan dibatasi.
"Seperti lomba tapi pentas seni hanya penari tunggal. Kemudian untuk berkelompok itu hanya empat orang. Pentasnya itu anak SD dengan SMP," jelasnya.
Selain pentas seni, akan ada visitasi atau kunjungan ke beberapa tempat bersejarah.
Obyek-obyek peninggalan kolonial belanda.
"Contohnya rujab bupati ada yang diseblahnya itu rumah asisten residen dulu," ungkapnya.
Tempat lainnya, rujab wakil bupati. Tansi belanda yang sekarang menjadi Markas 721 di Pangali-ali, Majene.
Pekuburan kolonial belanda di depan SMP 1 Majene.
Ada juga alat komunikasi belanda di belakang kantor PKK (dekat gedung assamalewuang).
Kemudian, Museum Mandar yang dulunya adalah bekas rumah sakit (boyang to monge).
"Jadi itu museum dua statusnya, sebagai cagar dan museum. Dulu itukan rumah sakit (boyang to monge) sekarang dialihfungsikan menjadi museum. Ini dibangun 1908 oleh kolonial belanda," bebernya.