Kamis, 4 Juni 2026

Pasangkayu

Harga TBS Jeblok, Petani Sawit di Pasangkayu Merintih Hasil Panennya Tak Terbeli

Selain harga tandan buah segar (TBS) yang terus menurun, petani kini juga kesulitan menjual hasil panen karena

Tayang:
Penulis: Taufan | Editor: Abd Rahman
zoom-inlihat foto Harga TBS Jeblok, Petani Sawit di Pasangkayu Merintih Hasil Panennya Tak Terbeli
Taufan/Taufan
KELUHAN PETANI SAWIT-Seorang petani sawit melintas di kawasan Desa Tampaure, Kecamatan Bambaira, Kabupaten Pasangkayu, Jumat (22/5/2026). Penutupan sementara sejumlah timbangan pengepul sawit akibat belum adanya kepastian harga dari pabrik membuat petani kesulitan menjual tandan buah segar (TBS), di tengah turunnya harga sawit dan antrean panjang di pabrik pengolahan. (*) 

Ringkasan Berita:
  • Penutupan sementara timbangan pengepul sawit di Pasangkayu membuat petani kesulitan menjual hasil panen di tengah harga TBS yang terus menurun.
  • Petani mengeluhkan buah sawit harus segera dijual agar tidak membusuk, sementara banyak pengepul menghentikan pembelian karena antrean panjang dan ketidakpastian harga.
  • Petani berharap pemerintah dan perusahaan segera menstabilkan harga sawit serta mengatasi antrean di pabrik agar hasil panen kembali lancar terjual.

 

TRIBUN-SULBAR.COM, PASANGKAYU – Penutupan sementara sejumlah timbangan pengepul buah kelapa sawit di Kabupaten Pasangkayu mulai berdampak terhadap petani.

Selain harga tandan buah segar (TBS) yang terus menurun, petani kini juga kesulitan menjual hasil panen karena banyak pengepul menghentikan sementara pembelian buah sawit.

Kondisi tersebut dikeluhkan Firman, petani sawit asal Kecamatan Bambaira, saat ditemui di sekitar timbangan TBS Desa Tampaure, Jumat (22/5/2026).

Baca juga: Dinas Koperindag Mamuju Tengah Pastikan Stok LPG 3 Kg Aman Jelang Lebaran Iduladha 2026

Baca juga: Antrean Mengular, Paket Sembako Pasar Murah di Mamuju Ludes dalam 2 Jam

Ia mengaku bingung mencari tempat penjualan buah setelah beberapa timbangan memilih tutup sementara akibat belum adanya kepastian harga dari pihak pabrik.

“Sekarang susah jual buah. Banyak timbangan tutup karena takut rugi,” ujar Firman.

Menurutnya, situasi ini membuat petani semakin tertekan karena buah sawit harus segera dijual setelah dipanen agar kualitasnya tidak menurun.

Jika terlalu lama disimpan, buah sawit berisiko membusuk dan brondolannya rontok sehingga harga jual ikut turun.

Firman menyebut harga sawit dalam beberapa hari terakhir juga mengalami penurunan cukup tajam dibanding sebelumnya.

“Dulu masih di atas Rp2 ribu per kilogram, sekarang turun terus. Sudah murah, susah dijual juga,” katanya.

Sejumlah petani, lanjut Firman, terpaksa menahan hasil panen di kebun sambil menunggu pengepul kembali membuka pembelian.

Namun kondisi tersebut juga dinilai berisiko karena buah sawit tidak dapat bertahan lama.

“Kalau terlalu lama ditahan, buah makin rusak. Mau dibawa ke pabrik juga antre panjang,” ungkapnya.

Ia berharap pemerintah dan pihak perusahaan segera mencari solusi agar harga sawit kembali stabil dan antrean di pabrik dapat diatasi.

Menurut Firman, kondisi saat ini sangat memberatkan petani karena biaya panen dan operasional tetap berjalan meski hasil penjualan menurun.

Sumber: Tribun sulbar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved