Pasangkayu
Harga TBS Jeblok, Petani Sawit di Pasangkayu Merintih Hasil Panennya Tak Terbeli
Selain harga tandan buah segar (TBS) yang terus menurun, petani kini juga kesulitan menjual hasil panen karena
Penulis: Taufan | Editor: Abd Rahman
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/HARGA-SAWIT.jpg)
Ringkasan Berita:
- Penutupan sementara timbangan pengepul sawit di Pasangkayu membuat petani kesulitan menjual hasil panen di tengah harga TBS yang terus menurun.
- Petani mengeluhkan buah sawit harus segera dijual agar tidak membusuk, sementara banyak pengepul menghentikan pembelian karena antrean panjang dan ketidakpastian harga.
- Petani berharap pemerintah dan perusahaan segera menstabilkan harga sawit serta mengatasi antrean di pabrik agar hasil panen kembali lancar terjual.
TRIBUN-SULBAR.COM, PASANGKAYU – Penutupan sementara sejumlah timbangan pengepul buah kelapa sawit di Kabupaten Pasangkayu mulai berdampak terhadap petani.
Selain harga tandan buah segar (TBS) yang terus menurun, petani kini juga kesulitan menjual hasil panen karena banyak pengepul menghentikan sementara pembelian buah sawit.
Kondisi tersebut dikeluhkan Firman, petani sawit asal Kecamatan Bambaira, saat ditemui di sekitar timbangan TBS Desa Tampaure, Jumat (22/5/2026).
Baca juga: Dinas Koperindag Mamuju Tengah Pastikan Stok LPG 3 Kg Aman Jelang Lebaran Iduladha 2026
Baca juga: Antrean Mengular, Paket Sembako Pasar Murah di Mamuju Ludes dalam 2 Jam
Ia mengaku bingung mencari tempat penjualan buah setelah beberapa timbangan memilih tutup sementara akibat belum adanya kepastian harga dari pihak pabrik.
“Sekarang susah jual buah. Banyak timbangan tutup karena takut rugi,” ujar Firman.
Menurutnya, situasi ini membuat petani semakin tertekan karena buah sawit harus segera dijual setelah dipanen agar kualitasnya tidak menurun.
Jika terlalu lama disimpan, buah sawit berisiko membusuk dan brondolannya rontok sehingga harga jual ikut turun.
Firman menyebut harga sawit dalam beberapa hari terakhir juga mengalami penurunan cukup tajam dibanding sebelumnya.
“Dulu masih di atas Rp2 ribu per kilogram, sekarang turun terus. Sudah murah, susah dijual juga,” katanya.
Sejumlah petani, lanjut Firman, terpaksa menahan hasil panen di kebun sambil menunggu pengepul kembali membuka pembelian.
Namun kondisi tersebut juga dinilai berisiko karena buah sawit tidak dapat bertahan lama.
“Kalau terlalu lama ditahan, buah makin rusak. Mau dibawa ke pabrik juga antre panjang,” ungkapnya.
Ia berharap pemerintah dan pihak perusahaan segera mencari solusi agar harga sawit kembali stabil dan antrean di pabrik dapat diatasi.
Menurut Firman, kondisi saat ini sangat memberatkan petani karena biaya panen dan operasional tetap berjalan meski hasil penjualan menurun.
| Jarak Tempuh Damkar 65 Kilometer, Rumah Warga di Lilimori Tak Bisa Diselamatkan dari Kebakaran |
|
|---|
| Rumah Warga di Pasangkayu Ludes Terbakar, Diduga Akibat Korsleting Listrik |
|
|---|
| DPRD Pasangkayu Desak Perusahaan Sawit Perbaiki Permanen Jalan Desa Ako, Jangan Hanya Disiram |
|
|---|
| Mahasiswa dan Warga Tagih Janji Perusahaan Sawit Perbaiki Jalan Rusak di Pasangkayu |
|
|---|
| Pemkab Pasangkayu Fokus Bahas Harga Bahan Pokok, TBS dan LPG 3 kg Jelang Idul Adha 2026 |
|
|---|