Selasa, 12 Mei 2026

Berita Pasangkayu

Dinsos Pasangkayu Dampingi Marigun Tetap Sekolah di SMK, Sempat Diusulkan Pindah ke SLB

Dinsos khawatir jika langsung dipindahkan ke SLB, hal itu justru memengaruhi mental dan rasa percaya diri remaja tersebut.

Tayang:
Penulis: Taufan | Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Dinsos Pasangkayu Dampingi Marigun Tetap Sekolah di SMK, Sempat Diusulkan Pindah ke SLB
Tribun-Sulbar.com/Taufan
BUTUH BANTUAN - Darwis membantu anaknya, Marigun (17), siswa kelas II SMA asal Desa Letawa, Kecamatan Sarjo, Kabupaten Pasangkayu, beraktivitas di rumahnya. Marigun harus menjalani amputasi kaki kiri usai mengalami kecelakaan pada November 2024, dan kini membutuhkan bantuan untuk pembelian kaki palsu. 

Ringkasan Berita:
  • Dinsos Pasangkayu mendampingi Marigun agar tetap bisa bersekolah di SMK Negeri 1 Letawa usai amputasi kaki akibat kecelakaan.
  • Marigun sempat diusulkan pindah ke SLB, namun Dinsos mempertimbangkan kondisi psikologis dan sosialnya.
  • Keluarga berharap ada bantuan kaki palsu senilai Rp75 juta agar Marigun bisa kembali beraktivitas normal.

 

TRIBUN-SULBAR.COM, PASANGKAYU - Dinas Sosial Kabupaten Pasangkayu terus memberikan pendampingan terhadap Marigun (17), siswa SMK Negeri 1 Letawa yang mengalami amputasi kaki akibat kecelakaan lalu lintas, agar tetap dapat bersekolah secara normal bersama teman-temannya.

Sebelumnya, Marigun sempat diusulkan untuk dipindahkan ke Sekolah Luar Biasa (SLB) setelah kondisi fisiknya mengalami keterbatasan usai kecelakaan yang terjadi pada November 2024 lalu.

Namun, Dinas Sosial Pasangkayu menilai Marigun masih layak dan berhak mendapatkan pendidikan di sekolah umum.

Baca juga: Dinsos Pasangkayu Ajukan Bantuan Kaki Palsu untuk Marigun ke Balai Rehabilitasi di Palu

Baca juga: Nasib Pilu Marigun Kaki Diamputasi, Butuh Bantuan Rp75 Juta untuk Kaki Palsu Agar Bisa Sekolah

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Pasangkayu, Elsi, mengatakan pihaknya sengaja melakukan pendampingan agar Marigun tetap memiliki semangat menjalani pendidikan dan tidak merasa berbeda dengan siswa lainnya.

“Kami dampingi supaya Marigun tetap sekolah normal. Memang sempat ada pembahasan untuk dipindahkan ke SLB, tapi setelah kami pertimbangkan, kondisi Marigun masih memungkinkan untuk tetap sekolah di sekolah umum,” ujar Elsi saat dikonfirmasi, Selasa (12/5/2026).

Menurutnya, keputusan tersebut juga mempertimbangkan kondisi psikologis Marigun yang masih dalam proses pemulihan pascaamputasi.

Dinsos khawatir jika langsung dipindahkan ke SLB, hal itu justru memengaruhi mental dan rasa percaya diri remaja tersebut.

“Yang kami pikirkan bukan hanya kondisi fisiknya, tetapi juga psikisnya. Jangan sampai dia merasa dikucilkan atau berbeda dari teman-temannya,” jelasnya.

Elsi menegaskan, Marigun bukan penyandang disabilitas sejak lahir, melainkan mengalami amputasi setelah kecelakaan.

Karena itu, proses adaptasi mental dan sosialnya perlu mendapat perhatian serius.

“Dia ini korban kecelakaan, bukan cacat bawaan lahir. Jadi tentu kondisi mentalnya juga harus dijaga. Kami ingin dia tetap merasa punya masa depan dan tetap percaya diri untuk sekolah,” katanya.

Dinsos Harap Ada Bantuan Kaki Palsu

Saat ini, Marigun tercatat sebagai siswa kelas 2 di SMK Negeri 1 Letawa dan masih aktif mengikuti proses belajar meski dengan berbagai keterbatasan.

Dalam aktivitas sehari-hari, Marigun masih membutuhkan bantuan keluarga untuk berpindah tempat maupun menjalani aktivitas dasar.

Pihak Dinsos Pasangkayu juga mengaku terus berkoordinasi dengan keluarga dan sekolah terkait kebutuhan pendampingan serta bantuan sosial yang dapat diberikan kepada Marigun.

Sumber: Tribun sulbar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved