Rabu, 29 April 2026

Iran vs Amerika Serikat

Iran-AS Makin Memanas, Arab Saudi Kirim Pesan ke Teheren

Sejumlah pangkalan militer AS diketahui berada di negara-negara tetangga Iran, termasuk Arab Saudi.

Tayang:
Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Iran-AS Makin Memanas, Arab Saudi Kirim Pesan ke Teheren
Tribun-Sulbar.com/kolase tribun-sulbar.com
IRAN VS AS - Presiden Donald Trump dan pemimpin Iran Ali Khamenei 
Ringkasan Berita:
  • Ketegangan Iran–AS meningkat, Iran mengancam serang pangkalan AS di negara-negara tetangga jika diserang lebih dulu.
  • Arab Saudi menegaskan tidak akan mengizinkan wilayahnya digunakan untuk menyerang Iran dan mendorong solusi dialog.
  • Krisis ekonomi dan anjloknya mata uang rial memicu demonstrasi besar di Iran yang berujung represi aparat.

 

TRIBUN-SULBAR.COM – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali meningkat.

Situasi ini dipicu pernyataan Presiden AS Donald Trump yang dinilai terlalu jauh mencampuri urusan dalam negeri Republik Islam Iran, khususnya terkait gelombang protes domestik.

Iran merespons dengan mengirimkan sinyal ancaman akan melancarkan serangan terhadap aset dan pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.

Sejumlah pangkalan militer AS diketahui berada di negara-negara tetangga Iran, termasuk Arab Saudi.

Baca juga: Iran Serukan Akan Balas Serangan Amerika Serikat: Sekarang Giliran Kami!

Baca juga: Iran Tangkap 700 Mata-mata yang Diduga Mossad Israel, Tiga Agen Dieksekusi

Teheran menegaskan, jika AS melancarkan serangan lebih dulu, maka negara-negara yang menampung pasukan militer AS akan menjadi sasaran balasan.

Iran pun telah menyampaikan peringatan kepada negara-negara tersebut.

Arab Saudi Tegaskan Netral dan Dorong Dialog

Menanggapi ancaman tersebut, Arab Saudi menyampaikan sikap tegas bahwa mereka tidak akan mengizinkan wilayah udara maupun teritorialnya digunakan untuk menyerangnya.

Hal itu disampaikan dua sumber yang dekat dengan pemerintah Kerajaan kepada AFP, Rabu (14/1/2026).

“Arab Saudi telah memberi tahu Teheran secara langsung bahwa mereka tidak akan menjadi bagian dari tindakan militer apa pun yang dilakukan terhadapnya, dan bahwa wilayah dan wilayah udaranya tidak akan digunakan untuk tujuan itu,” kata salah satu sumber yang dekat dengan militer Saudi, dikutip dari Al Arabiya.

Di sisi lain, seorang diplomat senior Arab Saudi menegaskan bahwa Riyadh tetap mendorong dialog dan solusi damai di tengah meningkatnya risiko eskalasi militer antara AS dan Iran.

“Kami percaya pada dialog, dan kami percaya menyelesaikan setiap perbedaan pendapat di meja perundingan,” kata Menteri Negara Luar Negeri Saudi, Adel al-Jubeir, saat berbicara di Forum Mineral Masa Depan di Riyadh.

Al-Jubeir menekankan bahwa ketidakstabilan tidak mendukung pembangunan di kawasan mana pun.

“Kami berharap masalah dapat diselesaikan dengan cara itu,” ujarnya.

Saat ditanya mengenai kemungkinan runtuhnya rezim Iran, al-Jubeir menegaskan hal tersebut sepenuhnya merupakan urusan rakyat Iran.

“Saya tidak berada dalam posisi untuk memberi tahu negara lain bagaimana seharusnya negara itu diperintah,” katanya.

Iran Ancam Serang Pangkalan AS di Negara Tetangga

Sebelumnya, seorang pejabat senior Iran kepada Reuters mengatakan Teheran telah memperingatkan negara-negara tetangga yang menampung pasukan AS bahwa pangkalan militer Amerika akan menjadi target jika Washington menyerang Iran.

Amerika Serikat memiliki pangkalan militer di sejumlah negara kawasan, termasuk markas Komando Pusat di Al Udeid, Qatar, serta markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain.

Beberapa diplomat menyebutkan bahwa sebagian personel AS disarankan meninggalkan Pangkalan Udara Al Udeid pada Rabu malam, meski belum ada tanda-tanda evakuasi besar-besaran seperti sebelum serangan rudal Iran tahun lalu.

Kontak langsung antara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan Utusan Khusus AS Steve Witkoff juga dilaporkan telah ditangguhkan.

Protes Dipicu Krisis Ekonomi Iran

Gelombang demonstrasi di Iran bermula pada 28 Desember 2025, dipicu runtuhnya nilai mata uang rial di tengah tekanan ekonomi akibat sanksi internasional, termasuk yang berkaitan dengan program nuklir Iran.

Trump sebelumnya mengancam akan mengambil tindakan militer atas dugaan pembunuhan demonstran damai, hanya beberapa bulan setelah AS membombardir fasilitas nuklir Iran dalam konflik Iran–Israel selama 12 hari pada Juni 2025.

Kelompok pemantau HAM melaporkan ribuan korban tewas dan puluhan ribu orang ditahan selama aksi protes berlangsung. Situasi keamanan disebut masih mencekam meski aparat mulai ditarik dari sejumlah wilayah. (*)

Sumber: Tribun sulbar
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved