Minggu, 7 Juni 2026

Berita Sulbar

TBC di Sulbar Hingga Pertengahan 2026 Tembus 5.000 Kasus

Nursyamsi mengatakan, DKPPKB saat ini mendorong implementasi GARATTA TBC atau Gerakan Aktif Masyarakat dan Tenaga Kesehatan Terpadu

Tayang:
Editor: Ilham Mulyawan
zoom-inlihat foto TBC di Sulbar Hingga Pertengahan 2026 Tembus 5.000 Kasus
AI Gemini
ILUSTRASU TBC AI-Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) mencatat sebanyak 3.188 kasus tuberkulosis (TBC) ditemukan hingga Oktober 2025. 
Ringkasan Berita:
1. Indonesia merupakan negara kontributor kasus TBC terbesar kedua di dunia setelah India.
2. Kasus TBC di Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari 1 juta kasus.
3. Provinsi Sulbar diperkirakan memiliki lebih dari 5.000 kasus TBC yang memerlukan penanganan aktif dan pengobatan tuntas.
4. Masih rendahnya cakupan penemuan kasus dan pemberian Terapi Pencegahan TBC (TPT).

 

TRIBUN-SULBAR.COM - Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Provinsi Sulawesi Barat, dr. Nursyamsi Rahim menyampaikan bahwa Indonesia masih menjadi negara dengan kontribusi kasus Tuberkulosis alias TBC terbesar kedua di dunia setelah India.

Estimasi lebih dari satu juta kasus pada tahun 2024. 

Baca juga: Keponakan Ditikam Paman Pakai Pisau Dapur di Pasar Batetangnga Polman

Baca juga: Peserta MagangHub Segera Ikut Sertifikasi Kompetensi Daftar di maganghub.kemnaker.go.id

Sementara itu, Sulawesi Barat diperkirakan memiliki lebih dari 5.000 kasus TBC pada tahun 2026 yang memerlukan upaya penemuan kasus secara aktif dan pengobatan hingga tuntas. 

Nursyamsi mengatakan, DKPPKB saat ini mendorong implementasi GARATTA TBC (Gerakan Aktif Masyarakat dan Tenaga Kesehatan Terpadu dalam Penanggulangan Tuberkulosis) sebagai salah satu strategi percepatan penanganan Tuberkulosis (TBC) di Sulawesi Barat.

Hal tersebut disampaikan dalam pertemuan bersama Kapolda Sulawesi Barat Irjen Pol. Adi Deriyan Jayamarta beserta jajaran Polda Sulbar yang dilaksanakan di Mapolda Sulawesi Barat, 3 Juni pekan lalu. 

Dalam pemaparannya, dr. Nursyamsi Rahim menjelaskan bahwa GARATTA TBC merupakan inovasi berbasis pemberdayaan masyarakat yang mengintegrasikan peran tenaga kesehatan, pemerintah desa, tokoh masyarakat, kader kesehatan, dan lintas sektor untuk mempercepat penemuan kasus, keberhasilan pengobatan, serta pencegahan penularan TBC hingga tingkat desa.

“Penanganan TBC tidak cukup hanya dilakukan di fasilitas kesehatan. Kita harus bergerak sampai ke tingkat desa melalui keterlibatan aktif masyarakat. GARATTA TBC hadir untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor, mempercepat penemuan kasus, meningkatkan keberhasilan pengobatan, dan memastikan masyarakat mendapatkan akses layanan yang lebih dekat,” ujar dr. Nursyamsi.

Data program TBC Sulawesi Barat menunjukkan bahwa masih terdapat tantangan besar dalam pencapaian target eliminasi TBC, terutama pada cakupan penemuan kasus dan pemberian Terapi Pencegahan TBC (TPT) yang memerlukan penguatan kolaborasi lintas sektor dan keterlibatan masyarakat secara aktif. (*)

Sumber: Tribun sulbar
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved