Jumat, 5 Juni 2026

Harga Telur Naik

Imbas MBG, Pedagang di Mamuju Keluhkan Harga Telur Sulit Turun

Meski sedikit menurun dibanding puncaknya Rp 60 ribu per rak, harga tersebut dinilai masih membebani konsumen.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Suandi | Editor: Nurhadi Hasbi
Ringkasan Berita:
  • Harga telur ayam ras di Pasar Baru Mamuju masih tinggi, Rp 58 ribu per rak, meski sedikit menurun dari Rp 60 ribu.
  • Lonjakan permintaan akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi penyebab utama sulit turunnya harga telur.
  • Bumbu dapur dan cabai sebagian besar stabil atau mengalami penurunan harga, sementara cabai keriting naik tipis.

 

TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU - Memasuki hari ke-12 bulan suci Ramadan 2026, fluktuasi harga komoditas pangan mulai terlihat di pasar tradisional Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat.

Meski harga kelompok cabai cenderung stabil dan sebagian menurun, harga telur ayam ras masih tertahan di level tinggi.

Berdasarkan pantauan di Pasar Baru Mamuju pada Senin (2/3/2026), harga telur ayam ras saat ini dibanderol Rp 58 ribu per rak.

Baca juga: Abon MBG di Mamuju Tengah Diduga Berulat, GMNI Soroti Kualitas Menu dan Standar Gizi

Baca juga: Harga Telur di Pasar Mamuju Melonjak Rp56 Per Rak, Pedagang Sebut Pasokan Kurang

Meski sedikit menurun dibanding puncaknya Rp 60 ribu per rak, harga tersebut dinilai masih membebani konsumen.

Lonjakan Permintaan MBG Jadi Faktor Utama

Pedagang di Pasar Baru Mamuju, Jamaluddin, mengungkapkan tingginya harga telur dipicu lonjakan permintaan yang masif.

Salah satu faktor utamanya adalah implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai berjalan intensif.

"Harga telur memang masih mahal. Penyebabnya karena permintaan meningkat tajam sejak adanya program Makan Bergizi Gratis itu. Stok terserap ke sana, jadi harga di pasar tetap tinggi," ujar Jamaluddin saat ditemui di lapaknya.

Kondisi ini menciptakan tantangan baru bagi pedagang pasar, mengingat telur merupakan sumber protein paling terjangkau bagi masyarakat menengah ke bawah, namun kini harus bersaing dengan permintaan skala besar dari program pemerintah.

Sementara itu, kelompok bumbu dapur atau volatile foods menunjukkan tren stabilisasi, bahkan penurunan pada beberapa komoditas:

Bawang merah stabil di Rp 35 ribu per kg, bawang putih Rp 40 ribu per kg.

Cabai rawit turun signifikan menjadi Rp 35 ribu per kg dari sebelumnya Rp 40–45 ribu per kg.

Cabai keriting naik tipis Rp 5.000, menjadi Rp 30 ribu per kg.

Cabai besar bertahan di Rp 20 ribu per kg, tomat stabil di Rp 10 ribu per kg.

(*)

Sumber: Tribun sulbar
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved