Hari Kebebasan Pers
Peringati Hari Kebebasan Pers 2026, AJI Mandar Soroti Ruang Ekspresi Makin Menyempit
Koordinator aksi, Harmegi Amin, menyampaikan keprihatinan atas kondisi tersebut. Ia menilai ruang ekspresi publik semakin terbatas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Mimba-Bebas-AJI-Kota-Mandar-dalam-rangka-peringatan-hari-kebebasan-pers-sedunia.jpg)
Ringkasan Berita:
- AJI Mandar soroti ruang kebebasan berekspresi yang dinilai semakin menyempit.
- Kekerasan terhadap jurnalis disebut masih terjadi, termasuk intimidasi dan kriminalisasi.
- Aktivis juga menyoroti ancaman militerisme dan ekspansi tambang di Sulbar.
TRIBUN-SULBAR.COM, MAJENE - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Mandar menyoroti menyempitnya ruang kebebasan berekspresi dalam peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia, Minggu (3/5/2026).
Peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia dilaksanakan AJI Kota Mandar melalui mimbar bebas dan orasi di Plataran Stadion Prasamya Mandar, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat.
Kegiatan ini diikuti puluhan peserta dari kalangan mahasiswa, LSM, dan masyarakat sipil.
Dalam orasinya, AJI Kota Mandar menyinggung berbagai bentuk tekanan terhadap pegiat demokrasi.
Mulai dari teror terhadap jurnalis hingga kekerasan terhadap aktivis.
Baca juga: World Press Freedom Day, AJI Kota Mandar Serukan Pentingnya Kebebasan Pers
Baca juga: AJI Kota Mandar Gelar Aksi Damai di Jl Ahmad Kirang Peringati Hari Kebebasan Pers Sedunia 2025
Koordinator aksi, Harmegi Amin, menyampaikan keprihatinan atas kondisi tersebut.
Ia menilai ruang ekspresi publik semakin terbatas.
“Kita sangat prihatin. Ruang ekspresi kian menyempit. Kritik justru dibayangi ancaman, intimidasi, dan teror,” ujar Harmegi.
Ia juga menyoroti dugaan pengambilalihan sejumlah ruang sipil oleh aparat keamanan.
Termasuk keterlibatan dalam proyek konstruksi pemerintah.
Soroti Kekerasan Jurnalis dan Isu Militerisme
AJI Mandar menilai kekerasan terhadap jurnalis masih terjadi.
Bentuknya beragam, mulai dari intimidasi fisik, serangan digital, hingga kriminalisasi.
Selain itu, tekanan ekonomi terhadap media juga disebut semakin terasa.
Kondisi ini dinilai memicu praktik sensor dan swasensor di kalangan jurnalis.
Praktik tersebut dinilai mengingatkan pada situasi di era Orde Baru.
Saat itu, kebebasan pers sangat terbatas.
Kegiatan mimbar bebas juga diisi pembacaan puisi dan pertunjukan seni.
Forum ini disebut menjadi ruang alternatif untuk menyuarakan aspirasi publik.
Sementara itu, Aco Nursyamsu dari Studi Advokasi dan Kedaulatan Agraria (SUAKA) Sulawesi Barat turut menyampaikan kritik.
Ia menyoroti ancaman lingkungan akibat ekspansi pertambangan.
Aco juga mengingatkan potensi munculnya kembali pola militerisme.
Ia menilai kondisi tersebut mirip dengan masa lalu.
“Kita pernah menumbangkan rezim militeristik Orde Baru. Namun hari ini, ada tanda-tanda menuju militerisme baru,” ujarnya.(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.