Pakar Hadis Tarbawi Hadir Halalbihalal Muhammadiyah Sulbar Ungkap Sejarah Persyarikatan di Mandar
Acara ini dihadiri lebih dari 500 warga, simpatisan, serta tokoh penting. Tampak hadir Sekda Provinsi Sulbar, Dr. Junda Maulana mewakili Gubernur
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Acara-Halalbihalal-di-Majene-sulbar.jpg)
TRIBUN-SULBAR.COM, MAJENE – Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) dan Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Sulawesi Barat menggelar Halalbihalal 1447 H dengan nuansa yang istimewa.
Tak sekadar silaturahmi, pertemuan yang berlangsung di Aula BPMP Sulbar, Rangas, Majene, Minggu (5/4/2026) ini juga menjadi momen refleksi sejarah masuknya Muhammadiyah ke tanah Mandar.
Acara ini dihadiri lebih dari 500 warga, simpatisan, serta tokoh penting. Tampak hadir Sekda Provinsi Sulbar, Dr. Junda Maulana mewakili Gubernur, Ketua PWM Sulbar Dr. KH. Wahyun Mawardi, Ketua PWA Sulbar Hj. Sunarti Marlianti, Kepala BPMP Sulbar Dr. Haksan Darmawan, Rektor Unimaju Dr. Muhammad Tahir, serta Rektor ITBM Nursahdi Saleh.
Baca juga: Tingkatkan Kualitas Tutor UT Majene Dapat Pembekalan 2 Pakar Nasional Selama 3 Hari
Baca juga: Lakalantas di Mateng Ertiga Dihantam Pick Up Pengangkut Ayam yang Tiba-tiba PIndah Jalur
Pesan Silaturahmi dari Pakar Hadis Tarbawi hadir sebagai penceramah utama, Guru Besar bidang Ilmu Hadis Tarbawi, Prof. Dr. KH. Mahsyar Idris, M.Ag. Dalam tausiyahnya, beliau menekankan bahwa merawat silaturahmi adalah fondasi utama kebaikan umat.
"Silaturahmi dalam bentuk tradisi Halalbihalal atau Syawalan adalah hal penting dan merupakan tradisi yang sangat baik untuk menjaga kohesi umat," tutur Prof. KH. Mahsyar.
Meski dalam kondisi fisik yang kurang fit sehingga harus menyampaikan ceramah sambil duduk, semangat beliau tetap terpancar kuat saat memberikan siraman rohani kepada ratusan jamaah yang memadati ruangan.
Menelusuri Jejak Sejarah di Tahun 1928
Hal menarik terungkap saat Ketua Panitia, Dr. Farhanuddin, menyampaikan laporannya. Ia memaparkan perspektif historis yang memberi makna mendalam bagi keberadaan Muhammadiyah di Bumi Malaqbiq.
Berdasarkan riset ilmiah, termasuk artikel karya Ridwan Alimuddin dengan sub-judul "Muhammadiyah di Mandar: Sebuah Revolusi Keagamaan", terungkap bahwa persyarikatan ini telah hadir di Mandar sejak era sebelum kemerdekaan.
Dalam artiket Ridwan itu, dituliskan bahwa di tahun 1928: Muhammadiyah pertama kali berdiri di Mandar, tepatnya di Majene, kemudian di tahun 1932 Menyusul kemudian pendirian cabang di Tinambung.
"Halalbihalal kali ini memiliki nilai historis yang kuat. Mengingat Muhammadiyah sudah ada di Majene sejak 1928, fakta ini harus menjadi motivasi untuk terus memajukan kualitas keumatan, terutama di bidang pendidikan dan sosial," tegas Dr. Farhanuddin.
Aksi Nyata Pendidikan dan Aset
Sebagai bentuk komitmen nyata dalam memajukan pendidikan, PWM Sulbar menyerahkan bantuan sebesar Rp 10 juta kepada Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Majene. Bantuan tersebut diperuntukkan bagi dukungan pembangunan SD Muhammadiyah Unggulan yang berfokus pada bidang sains dan tahfidz.
Penyerahan dilakukan oleh Dr. KH. Wahyun Mawardi kepada Ketua PDM Majene, Ust. Darmawan Hafied. Bantuan juga disampaikan LazisMU Sulbar.
Acara juga diisi dengan penyerahan sertifikat aset tanah Muhammadiyah oleh perwakilan BPN Polman dan BPN Majene kepada Ketua PWM Sulbar, sebagai langkah penting dalam tertib administrasi dan pengamanan aset persyarikatan di Sulawesi. (*)
| UT Majene Libatkan 2 CEO Muda Putera Sulbar Bangun Jiwa Usaha Mahasiswa Kreatif Inovatif dan Mandiri |
|
|---|
| UT Majene Bekali Mahasiswa Strategi Taklukkan Tugas dan UAS Semester Genap |
|
|---|
| Api Boedi Oetomo Menyala dari Majene Direktur UT Devi Ajak Semua Jajaran Perkuat Solidaritas |
|
|---|
| Lowongan Kerja Juni 2026, Terima Lulusan SMA untuk Penempatan Majene, Mamasa, dan Sampaga |
|
|---|
| Khatib Ied Adha di Tande, KH Wahyun: Pengorbanan Keluarga Ibrahim Jadi Inspirasi |
|
|---|