Rabu, 13 Mei 2026

Kuliner

Pisang Epe, Kuliner Legendaris Makassar yang Tak Pernah Pudar

Hajir penjual pisang epe legend di Makassar mengaku, sudah berjulan pisang sejak 1998 di kawasan Pantai Losari.

Tayang:
Editor: Abd Rahman
zoom-inlihat foto Pisang Epe, Kuliner Legendaris Makassar yang Tak Pernah Pudar
Abd Rahman
PISANG EPE- Pisang epe, kuliner tradisional khas Makassar, tetap bertahan dan digemari hingga kini. Makanan berbahan pisang kepok ini terkenal karena proses sederhana dan cita rasa manis khas gula merahnya. 

Citizen Reporter : Asmaul Husna 
(Mahasiswi UIN Alauddin Makassar)

 

TRIBUN-SULBAR.COM- Pisang epe, kuliner tradisional khas Makassar, tetap bertahan dan digemari hingga kini. 

Makanan berbahan pisang kepok ini terkenal karena proses sederhana dan cita rasa manis khas gula merahnya.

 Tak heran jika kuliner ini menjadi favorit wisatawan, khususnya di Anjungan Pantai Losari, Makassar, pada sore hingga malam hari.

Pisang epe memiliki tekstur lembut setelah dipipihkan dan memberi aroma harum karena melalui proses pembakaran menggunakan arang. 

Baca juga: Bingung Cari Menu Makanan di Malam Tahun Baru 2026 ? Coba 15 Menu Makanan dan Minuman Ini

Baca juga: Dosen Unsulbar Sulap Pelepah Pohon Pisang & Loka Pere Jadi Camilan Bergizi Penangkal Stunting

Nama pisang epe diambil dari kata “epe” dalam bahasa Makassar yang berarti dipipihkan. 

Istilah tersebut merujuk pada teknik pengolahan pisang yang ditekan setelah dibakar. 

 Guru Tata Boga  SMP Negeri 7  Mappakasunggu,  Ahmad Darwis,  mengatakan, proses pemipihan ini sejak dahulu menjadi ciri khas pisang epe sebagai kuliner tradisional masyarakat Makassar. 

Dulunya kata dia, pisang epe hanya disajikan dengan campuran gula merah cair. 

Kini, seiring berkembangnya selera generasi muda, pisang epe hadir dengan berbagai variasi topping seperti keju, coklat, dan milo.

Hajir penjual pisang epe legend di Makassar mengaku, sudah berjulan pisang sejak 1998 di kawasan Pantai Losari.

Hajir menjelaskan cara ia membuat pisang epe,  Hajir terlebih dahulu memasak gula merah hingga mencair dan mengental agar menghasilkan rasa manis alami.

 Setelah itu, ia memilih pisang kepok (utti manurung) dengan tingkat kematangan yang pas. Pisang kemudian dikupas dan dibakar di atas arang selama kurang lebih 10 menit hingga matang merata. 

Setelah dibakar, pisang dipipihkan menggunakan alat khusus sebelum disiram gula merah dan ditambahkan topping sesuai permintaan pembeli.

“Pertama kita buat gula merahnya dulu sampai kental. Baru pisangnya dibakar sekitar sepuluh menit pakai arang, terus dipipihkan,” ujar Hajir saat ditemui di Pantai Losari, Makassar, 30 November 2025 lalu.

Ia menjelaskan bahwa topping dahulu hanya durian dan kelapa, berbeda dengan sekarang yang lebih bervariasi mengikuti perkembangan zaman.

Menurutnya, meski tren kuliner datang silih berganti, pisang epe tetap memiliki tempat tersendiri.

“Dari tahun 90-an sampai sekarang tidak hilang. Tidak seperti makanan viral, Cuma sebentar lalu hilang. Pisang epe ada terus, tidak hilang dimakan waktu,” tambahnya.

Penjual lainnya, Kevin, telah menjual pisang epe sejak 2010 dan membuka lapaknya di kawasan yang sama. 

Menurutnya, kualitas bahan menjadi faktor utama dalam pembuatan pisang epe.

“Pisang kepoknya tidak boleh terlalu lembek dan tidak boleh terlalu keras. Harus pas,” ucap Kevin saat ditemui di Pantai Losari, Makassar. Pada 30 November 2025.

Kevin menjelaskan bahwa topping pIsang epe kini lebih modern. Namun baginya gula merah tetap menjadi komponen utama, “supaya rasa aslinya tidak hilang,” jelasnya.

Pelanggan bernama Wanda, yang sudah menyukai pisang epe sejak masih sekolah dasar, mengaku rasa pisang epe tidak pernah berubah.

“Rasanya enak, manis-manis pisang dan ada bau khasnya karena dibakar. Saya lebih suka yang original karena tidak terlalu manis,” katanya saat ditemui di Pantai Losari, 30 Nobember 2025.

Menurutnya, ciri khas pisang epe terletak pada proses pembakaran dan penggunaan gula merah.

Sehingga ia berharap olahan tersebut tetap dipertahankan meski banyak varian baru bermunculan.

Ahmad Darwis kembali menegaskan,  pisang epe memiliki nilai budaya yang harus dijaga.

“Pisang epe itu ciri khas orang Makassar. Kalau kita promosikan keluar provinsi, pasti dicari,” ujarnya saat diwawancarai pada 8 Desember 2025.

Menurutnya, penggunaan arang dalam proses pembakaran tidak boleh digantikan dengan alat modern karena memengaruhi aroma dan keaslian rasanya. 

Ia juga menyarankan agar inovasi dilakukan secara seimbang.

“Tidak boleh stagnan, tapi juga tidak boleh sampai hilang ciri khasnya. Variasi boleh, tapi rasa aslinya harus tetap ada,” jelasnya.

Ahmad juga menilai bahwa pelestarian pisang epe seharusnya tidak hanya berorientasi pada bisnis, melainkan pada identitas kuliner itu sendiri.

 “Orang yang makan harus tetap bisa merasakan ciri khas pisang epe,” ujarnya.

Dengan proses sederhana, bahan yang mudah ditemukan, serta rasa yang telah melewati lintas generasi, pisang epe menjadi salah satu kuliner yang berpotensi terus berkembang. 

Variasi topping dan inovasi kemasan dapat menjadi daya tarik baru bagi generasi saat ini, namun keaslian rasa tradisionalnya tetap menjadi hal utama yang membuat pisang epe bertahan hingga sekarang.(*)

Sumber: Tribun sulbar
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved