Ekonomi
Nilai Tukar Rupiah Tertekan, Sempat Tembus Rp 17.602 per Dolar AS
Dari sisi global, inflasi tahunan Amerika Serikat yang mencapai 3,8 persen disebut menjadi salah satu penyebab utama menguatnya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Dolar-dan-Rupiah-Nilai-tukar-rupiah-di-pasar-spot-tembus-ke-atas-Rp15-ribu-per-dolar.jpg)
Ringkasan Berita:
- Nilai tukar rupiah ditutup melemah ke level Rp 17.597 per dolar AS pada perdagangan Jumat (15/5/2026).
- Pelemahan rupiah dipicu inflasi tinggi di Amerika Serikat yang memperkuat dolar AS serta sentimen negatif dari dalam negeri.
- Pengamat menilai tekanan global, kenaikan harga minyak dunia, dan melemahnya minat investor terhadap aset Indonesia membuat rupiah semakin tertekan.
TRIBUN-SULBAR.COM - Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan sepanjang pekan ini dan menyentuh level terendah baru terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Pada perdagangan spot Jumat (15/5/2026), rupiah ditutup melemah di posisi Rp 17.597 per dolar AS atau turun 0,39 persen dibanding perdagangan sebelumnya.
Bahkan dalam perdagangan intraday, rupiah sempat menyentuh level Rp 17.602 per dolar AS.
Baca juga: Sawit Menumpuk di Pabrik, Petani di Sulbar Merintih Harga Anjlok hingga Antre 4 Hari
Baca juga: Driver Ojol di Makassar Dibusur Bocah 13 Tahun di Siang Bolong, Korban Tetap Berkendara
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipicu kombinasi faktor eksternal dan domestik.
Dari sisi global, inflasi tahunan Amerika Serikat yang mencapai 3,8 persen disebut menjadi salah satu penyebab utama menguatnya dolar AS.
“Inflasi AS masih tinggi dan itu menguatkan dolar,” ujar Ibrahim melansir Kontan.id, Sabtu sore.
Kondisi tersebut mendorong ekspektasi kebijakan moneter ketat di AS sehingga membuat aset berbasis dolar semakin diminati investor global.
Akibatnya, arus modal cenderung keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Selain faktor global, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi sentimen domestik.
Mulai dari kekhawatiran perlambatan sektor manufaktur, ketidakpastian kebijakan royalti tambang, hingga meningkatnya persepsi risiko fiskal.
Pasar juga menyoroti respons politik terkait pelemahan rupiah, termasuk teguran Presiden Prabowo Subianto kepada Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo.
Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menambahkan kenaikan harga minyak dunia turut memperbesar tekanan terhadap rupiah.
Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan inflasi, beban subsidi energi, dan kebutuhan dolar AS di dalam negeri.
“Tekanan global dan domestik membuat rupiah semakin rentan,” kata Josua.
Di sisi lain, hasil lelang Surat Berharga Negara (SBN) terbaru menunjukkan permintaan investor melemah dalam lebih dari satu tahun terakhir.
Kondisi tersebut dinilai mencerminkan meningkatnya persepsi risiko terhadap aset Indonesia sehingga investor meminta imbal hasil lebih tinggi.
Hal itu ikut memperkuat tekanan terhadap nilai tukar rupiah.(*)
| Aktivitas Proyek Fisik Melambat, BI Sulbar Catat Sektor Konstruksi Alami Tekanan Berat di Awal Tahun |
|
|---|
| BI Sulbar Catat Pertumbuhan Kredit Melambat di Triwulan I-2026, Sektor Konstruksi Terjun Bebas |
|
|---|
| Sensus Ekonomi 2026 Digelar Mei–Agustus, BPS Mamuju Tengah Gandeng 3 Desa Pilot Project |
|
|---|
| Ekonomi Sulbar Tumbuh 5,36 Persen, Bapperida Soroti Tantangan Pengangguran |
|
|---|
| Dirut Bursa Efesk Indonesia Mengundurkan Diri, Buntut IHSG Terjun Bebas |
|
|---|