Tukang Becak
Kamising, Tukang Becak di Mamuju Bertahan Meski Sepi Penumpang
Sudah 13 tahun ia bertahan sebagai tukang becak di Mamuju, Sulawesi Barat.
Penulis: Andika Firdaus | Editor: Nurhadi Hasbi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Kamasing-bersama-rekannya-di-Pasar-Lama-Mamuju.jpg)
TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU – Kamising, pria 43 tahun asal Bantaeng, Sulawesi Selatan, masih setia mengayuh becaknya.
Sudah 13 tahun ia bertahan sebagai tukang becak di Mamuju, Sulawesi Barat.
Setiap pagi, sejak pukul 06.00 hingga 11.00 WITA, Kamising mangkal di sudut Pasar Lama Mamuju, Jl Sintra Llamas, Kelurahan Binanga.
Baca juga: Tukang Becak di Majene Bahagia Orangtua Anak yang Bakar Becaknya Ganti Rugi
Menanti penumpang, meski makin jarang menggunakan jasanya.
“Sekarang susah. Sudah banyak ojek daring,” ujarnya lirih kepada wartawan Tribun-Sulbar.com, Sabtu (26/7/2025).
Ia tak punya motor.
Jadi bertahan dengan becak jadi satu-satunya pilihan.
Tarif jasanya bervariasi. Mulai dari Rp5 ribu hingga Rp25 ribu, tergantung jarak.
“Tapi rata-rata cuma di sekitar pasar saja,” ucapnya.
Penghasilannya kian menipis.
Dalam sehari, Kamising hanya membawa pulang Rp30 ribu hingga Rp40 ribu.
“Kadang juga tidak ada sama sekali,” tambahnya.
Sebagai ayah dua anak, beban hidup Kamising tak ringan.
“Langsung habis. Buat makan, kebutuhan rumah, anak-anak,” tuturnya.
Hidup sebagai tukang becak, katanya, penuh perjuangan.