Kamis, 21 Mei 2026

Tukang Becak

Kamising, Tukang Becak di Mamuju Bertahan Meski Sepi Penumpang

Sudah 13 tahun ia bertahan sebagai tukang becak di Mamuju, Sulawesi Barat.

Tayang:
Penulis: Andika Firdaus | Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Kamising, Tukang Becak di Mamuju Bertahan Meski Sepi Penumpang
Andika Firdaus/Tribun-Sulbar.com
TUKANG BECAK - Kamasing bersama rekannya di Pasar Lama, Jl Sintra Llamas, Kelurahan Binanga, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar), Sabtu (26/7/2025). Pria asal Bantaeng, Sulawesi Selatan (Sulsel) ini, telah mengabdi selama 13 tahun sebagai tukang becak di tanah rantau. 

TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU – Kamising, pria 43 tahun asal Bantaeng, Sulawesi Selatan, masih setia mengayuh becaknya.

Sudah 13 tahun ia bertahan sebagai tukang becak di Mamuju, Sulawesi Barat.

Setiap pagi, sejak pukul 06.00 hingga 11.00 WITA, Kamising mangkal di sudut Pasar Lama Mamuju, Jl Sintra Llamas, Kelurahan Binanga.

Baca juga: Tukang Becak di Majene Bahagia Orangtua Anak yang Bakar Becaknya Ganti Rugi

Menanti penumpang, meski makin jarang menggunakan jasanya.

“Sekarang susah. Sudah banyak ojek daring,” ujarnya lirih kepada wartawan Tribun-Sulbar.com, Sabtu (26/7/2025).

Ia tak punya motor.

Jadi bertahan dengan becak jadi satu-satunya pilihan.

Tarif jasanya bervariasi. Mulai dari Rp5 ribu hingga Rp25 ribu, tergantung jarak.

“Tapi rata-rata cuma di sekitar pasar saja,” ucapnya.

Penghasilannya kian menipis.

Dalam sehari, Kamising hanya membawa pulang Rp30 ribu hingga Rp40 ribu.

“Kadang juga tidak ada sama sekali,” tambahnya.

Sebagai ayah dua anak, beban hidup Kamising tak ringan.

“Langsung habis. Buat makan, kebutuhan rumah, anak-anak,” tuturnya.

Hidup sebagai tukang becak, katanya, penuh perjuangan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved