Sabtu, 25 April 2026

Ancaman Abrasi

Abrasi Ancam Gerus Tanah Pinggir Sungai Desa Maponu Pasangkayu, Warga Makin Resah

Kondisi ini telah menimbulkan kekhawatiran bagi warga setempat. Terutama bagi warga yang memiliki kebun di dekat sungai tersebut.

Tayang:
Penulis: Taufan | Editor: Ilham Mulyawan
zoom-inlihat foto Abrasi Ancam Gerus Tanah Pinggir Sungai Desa Maponu Pasangkayu, Warga Makin Resah
Taufan Tribun Sulbar
ABRASI SUNGAI-Kondisi pinggir sungai di Desa Maponu, Kecamatan Sarjo, Kabupaten Pasangkayu kian mengalami abrasi, telah mengancam kebun milik warga serta jembatan, Senin (5/5/2025), kondisi ini diperparah ketika air laut pasang. 

TRIBUN-SULBAR.COM,PASANGKAYU - Kondisi tanah di pinggir sungai Desa Maponu, Kecamatan Sarjo, Kebupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat terus menerus mengalami abrasi.

Penyebabnya digerus air sungai, apalagi ketika kondisi air sedang pasang, maka abrasi tersebut semakin meningkat.

Kondisi ini telah menimbulkan kekhawatiran bagi warga setempat.

Terutama bagi warga yang memiliki kebun di dekat sungai tersebut.

Pantauan Tribun-Sulbar.com di lokasi, tanah yang terus-terusan terkikis itu telah mengancam kebun milik warga.

Baca juga: Remaja Usia 16 Tahun di Polman Diciduk Polisi Usai Mengancam Pakai Pedang Katana Berawal Geber Motor

Baca juga: JPU Ajukan Banding Vonis Rendah ASN Polman Kasus Pencabulan Anak, Tuntutan 12 Tahun Vonis 1 Tahun

Beberapa pohon kelapa milik warga di samping sungai nampak rubuh, bersama longsoran tanah.

Selain itu, lokasi sungai yang berada di dekat jembatan jalan poros, juga dikhawatirkan turut mengancam jembatan itu.

Sebagian tiang jembatan juga nampak retak, akibat pengaruh dari abrasi tersebut.

Bukan hanya itu, tak jauh dari sungai, terdapat dua rumah warga.

Sehingga, juga dikhawatirkan turut mengancam keselamatan warga tersebut.

"Ini sangat mengkawatirkan, karena kondisinya semakin parah," kata Taslim, salah satu warga saat ditemui di lokasi.

Katanya setiap air laut naik, tanah di pinggir sungai itu terus terkikis hingga beberapa senti meter.

"Dalam sehari mungkin dua kali air laut pasang, jadi tambah cepat tanahnya terkikis," ujarnya.

Hal ini menurutnya juga sudah pernah dibahas bersama aparat desa, akan tetapi masih belum ada perbaikan.

"Perlu dana besar untuk membuatkan tanggul atau bronjong di pinggir sungai itu, karena lumayan panjang," ucapnya.

Dia berharap agar kondisi ini dapat segera teratasi, agar para warga dapat kembali merasa aman.(*)

Laporan Wartawan Tribun-Sulbar.com, Taufan

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved