SIBALI PARRI, Tradisi Gotong Royong Nelayan Mandar yang Masih Terus Dilestarikan
Implementasi tradisi Sibali Parri diterapkan masyarakat nelayan saat menarik kapal dari tepi laut ke daratan jika kapal mengalami kerusakan.
Penulis: Fahrun Ramli | Editor: Nurhadi Hasbi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Warda-Dusun-Tallo-Barat-Desa-Bala-Kecamatan-Balanipa-Kabupaten-Polman-gotong-royong.jpg)
TRIBUN-SULBAR.COM, POLMAN - Sibali Parri, salah satu tradisi gotong royong nelayan Mandar yang masih terus dilestarikan hingga sekarang.
Tak terkecuali di kalangan nelayan Desa Bala, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar).
Implementasi tradisi Sibali Parri diterapkan masyarakat nelayan saat menarik kapal dari tepi laut ke daratan jika kapal mengalami kerusakan.
Tradisi gotong royong tersebut sudah turun temurun, terawat dengan baik di masyarakat.
Tradisi unik itu biasanya terjadi di musim barat, atau Desember hingga Januari, saat terjadi gelombang tinggi.
Pantauan Tribun-Sulbar.com, Sabtu (8/1/2023) terlihat nelayan gotong royong menarik sebuah kapal berukuran besar.
Kapal itu ditarik menggunakan tali tambang dari pinggir pantai hingga ke daratan.
Puluhan warga di Dusun Tallo Barat, Desa Bala, tersebut ikut menarik kapal.
Mereka secara sukarela atau bahu membahu manarik kapan tersebut sampai ke daratan.
Kapal itu ditarik lantaran mengalami kerusakan, setelah dihantam gelombang tinggi.
"Ini sudah kebiasaan kita saling membantu saat ada kapal nelayan mengalami kerusakan," terang salah seorang warga Kardi.
Ia mengatakan, warga sekitar cukup setia kawan saat salah satu nelayan mengalami musibah.
Mereka akan datang membantu, tanpa harus mendapatkan upah sepeserpun.
"Karen ini sudah tradisi kita di sini, sejak saya masih kecil hingga sekarang, masih terjalin baik," ujar pria berusia 47 tahun ini.
Warga hanya disuguhi minuman atau es cendul usai gotong royong.