Harga Sawit Anjlok
Harga Sawit Anjlok, Petani di Desa Pangalloang Mamuju Tengah Keluhkan Biaya Pemeliharaan
“Jadi masalahnya itu, karena biaya pupuk dan racun tidak turun, sementara harga buah sawit anjlok,” pungkasnya.
Penulis: Samsul Bachri | Editor: Hasrul Rusdi
TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU TENGAH – Anjloknya harga Tandan Buah Segar (TBS) membuat petani sawit di Desa Pangalloang, Kecamatan Topoyo, Mamuju Tengah (Mateng) mengeluh.
Pasalnya, tingginya biaya pemeliharaan, termasuk pengadaan pupuk dan racun rumput tidak menutupi penghasilan.
Hal tesebut diungkapkan Falli, warga Desa Tumbu yang memiliki kebun sawit di Desa Pangalloang, Kecamatan Topoyo, Mamuju Tengah (Mateng).
Kepada Tribun-Sulbar.com, Selasa (17/5/2022) Falli ungkap terpaksa mengeluarkan biaya lebih untuk pemeliharaan kebun sawitnya.
“Jadi masalahnya itu, karena biaya pupuk dan racun tidak turun, sementara harga buah sawit anjlok,” pungkasnya.
Baca juga: Spanduk Ucapan Selamat Datang Akmal Malik di Bumi Malaqbiq Mulai Hiasi Jalan Kota Mamuju
Baca juga: Satu Hektar Lahan Sawah di Sampoang Kalukku Gagal Panen Akibat Banjir
Falli mengumpamakan senyum lebar petani berganti dengan rasa sedih yang mendalam.
Karena menurutnya, saat sawit diharga Rp 2.800 per kilogram di timbangan banyak petani yang berani ambil cicilan ke bank.
“Banyak teman berani ambil cicilan, termasuk saya,” tandasnya sambil tersenyum.
“Saya ambil cicilan kebun sawit dengan jaminan sertifikat ke bank,” sambungnya.
Awalnya tertutupi hanya dengan sekali panen.
Namun setelah turun diharga Rp 1.300 per kilogram di timbangan, tiga kali panen masih kurang.
“Jadi saat ini, hasil dibeberap tempat kebun sawitnya harus menopang biaya cicilannya ke Bank.
Ia berharap agar harga sawit kembali naik, agar petani sawit bisa tersenyum kembali.
“Minimal dua ribuan ke atas lah Pak,” tutupnya.(*)
Laporan Wartawan Tribun-Sulbar.com Samsul Bahri
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/petani-sawit-Falli-sedang-memanen-buah-sawitnya-di-Desa-Pangalloang-Topoy.jpg)