Ustaz Menjawab

Syiar Ramadan, Ustaz Sabaruddin Sebut Perbedaan Adalah Rahmat dari Allah SWT

Dia menceritakan kisah Rasulullah Muhammad SAW yang berdiri ketika seorang Yahudi meninggal dunia.

Penulis: Kamaruddin | Editor: Hasrul Rusdi
Tribun-Sulbar.com
Syiar Ramadan bersama Ustadz Sabaruddin Lc, Jumat (22/4/2022). 

TRIBUN-SULBAR.COM, POLMAN - Syiar Ramadan bersama ustaz Sabaruddin Lc dengan tema Moderasi Beragama Pererat Keutuhan NKRI, Jumat, (22/4/2022).

Sabaruddin mengatakan, Rasulullah Muhammad SAW merupakan pionir dan pelopor moderasi beragama yang diajarkan kepada seluruh umat manusia bagaimana menyikapi perbedaan.

Sehingga, orang yang memahami konsep moderasi beragama maka akan toleran dan menghargai perbedaan pendapat.

Dia menceritakan kisah Rasulullah Muhammad SAW yang berdiri ketika seorang Yahudi meninggal dunia.

"Rasulullah berdiri saat orang Yahudi meninggal dunia, lalu sahabat bertanya kenapa Rasullullah berdiri sementara jenazah yang lewat ini adalah jenazah orang Yahudi," katanya.

Baca juga: Peringati Hari Bhakti Pemasyarakatan, Kemenkumham Sulbar Baksos di Pondok Pesantren dan Panti Asuhan

Baca juga: Kuota Haji Kabupaten Majene Dipangkas 50 Persen, Tahun Ini Hanya 115 Orang Akan Berangkat

"Kata Rasulullah bukankah yang lewat itu adalah ciptaan Allah SWT. disitu kita lihay bagaimana Rasulullah mencontohkan bagaimana moderasi beragama," sambungnya.

Sabaruddin juga mencontohkan, perbedaan penanggalan tahun 1443 hijriah atau penetapan awal bulan suci ramadan terjadi perbedaan.

"Kalau kita memahami perbedaan itu karena perbedaan adalah rahmat dari Allah SWT," ucap Sabaruddin.

Sabaruddin menjelaskan, toleransi beragama dibagi menjadi dua.

Ada toleransi sesama agama dan ada toleransi antar umat beragama.

"Perbedaan antara sesama agama, ada yang qunut dengan tidak qunut dan perbedaan awal bulan ramadan itu sudah selesai, karena kita sama-sama memahami bahwa perbedaan adalah rahmat dari Allah SWT," ucap Sabaruddin.

"Sementara perbedaan antara umat beragama, landasannya adalah Lakum dini kum waliyadin, agamaku adalah agamaku dan agamamu adalah agamamu," tambahnya.

Dia menegaskan, ketika bersentuhan dengan ritual keagamaan, tidak boleh agama kita masuk ke agama lain.

Sebaliknya, agama lain tidak boleh masuk ke agama kita.(*)

  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved