Sekolah Luar Biasa
Dinas Pendidikan Sulbar Bantah Temuan Komisi IV DPRD Terkait SLB di Mamasa dan Pasangkayu
"Makanya kami akan turun langsung mengecek SLB yang dianggap fiktif ini. Karena harus dipahami dulu SLB beda dengan sekolah umum," bebernya.
Penulis: Habluddin Hambali | Editor: Hasrul Rusdi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Kepala-Bidang-Pendidikan-Khusus-Dinas-Pendidikan-dan-Kebudayaan-Sulbar-Yusran.jpg)
TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU - Kepala Bidang Pendidikan Khusus Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sulbar, Yusran menanggapi temuan Komisi IV DPRD Sulbar terkait Sekolah Luar Biasa (SLB) fiktif di Sulawesi Barat (Sulbar).
SLB fiktif yang dimaksud adalah SLB Baitan, Kecamatan Aralle, Kabupaten Mamasa dan SLB di Kabupaten Pasangkayu.
"Kalau kondisi siswanya dianggap hampir tidak ada, memang seperti itulah SLB sebenarnya, apalagi saat ini masih pandemi Covid-19," kata Yusran, saat ditemui di kantornya Jl Abdul Malik Pattana Endeng, Kecamatan Simboro, Mamuju, Sulbar, Jumat (14/1/2022).
Baca juga: 4 ASN Jadi Perantara Bupati PPU Kaltim Terima Suap, KPK Sita Uang Rp 1 M saat OTT
Kedua, SLB tersebut saat proses pembelajaran dalam sekolah maksimal delapan orang.
Itulah, menjadi kendala selama ini dihadapi setiap sekolah.
"Termasuk juga kalau siswa tidak diantar orang tuanya pasti tidak datang," ungkap Yusran.
Kalaupun, dianggap fiktif mungkin dari segi sekolahnya.
Karena kadang-kadang juga siswa datang ke sekolah.
"Makanya kami akan turun langsung mengecek SLB yang dianggap fiktif ini. Karena harus dipahami dulu SLB beda dengan sekolah umum," bebernya.
Sehingga, memang agak sulit kelihatan dan biasanya para orangtua siswa berada di sekolah mendampingi anaknya.
Begitupun, SLB ini di suatu tempat tidak semua siswanya berasal dari situ.
"Karena berkebutuhan khusus, makanya ada beberapa siswa di luar dari tempat SLB tersebut," tandasnya.(*)
Laporan Wartawan TRIBUN-SULBAR.COM, Habluddin