Breaking News:

Pemuda Mombi Alu Polman Dirikan Sekolah Menenun Lestarikan Lipaq Saqbe

Rezki mengaku mengusulkan project social Sekolah Menenun, karena melihat pentingnya regenerasi penenun di Sulbar.

Penulis: Hasan Basri | Editor: Munawwarah Ahmad
Rezky
Pemuda Dusun II Paropo Desa Mombi Kecamatan Alu Kabupaten Polman mendirikan sekolah menenun untuk melestarikan tenun sutra mandar atau yang sering disebut lipaq saqbe. 

TRIBUN-SULBAR.COM, POLMAN - Pemuda Dusun II Paropo Desa Mombi Kecamatan Alu Kabupaten Polman mendirikan sekolah menenun untuk melestarikan tenun sutra mandar atau yang sering disebut lipaq saqbe.

Kelompok pemuda yang diberi nama kelompok Laika tersebut, sebelumnya mengikuti kompetisi project social PFMuda 2021 yang diselenggarakan oleh Pertamina Foundation.

Ketua Kelompok Laika, Rezki Amaliah mengatajan, PFMuda merupakan salah satu program Pertamina Foundation yang diperuntukkan untuk pemuda, dalam hal ini menuntaskan isu-isu sosial melalui sebuah project.

Dalam kompetisi tersebut, Rezki mengaku mengusulkan project social Sekolah Menenun, karena melihat pentingnya regenerasi penenun di Sulbar.

"Alhamdulillah, dari 2.149 peserta yang mengikuti PFMuda 2021, kami berhasil lolos ke 21 besar project social terbaik se Indonesia," kata Rezki dalam rilisnya.

Rezki menyampaikan, saat ini proses pembelajaran di sekolah menenun sedang berjalan.sekolah menenun telah dibuka setiap Sabtu dan Minggu terbuka untuk umum.

BagiĀ  siapapun yang ingin belajar menenun bisa mengikuti kelas itu.
"Kelasnya kami buka akhir pekan, karena kebanyakan peserta yang ikut dari kalangan pelajar," ujar Rezki.

Namun, lanjut Rezki, meskipun pembelajaran di sekolah menenun hanya buka di akhir pekan, setiap harinya aktifitas menenun tetap berjalan, karena selain berfungsi sebagai tempat belajar, sekolah menenun juga mewadahi kelompok usaha ekonomi kreatif tenun sutra di Desa Mombi.

"Alhamdulillah, antusias peserta cukup banyak, bahkan masyarakat sekitar juga sangat antusias datang ke sekolah menenun, hanya saja kami tidak bisa menerima banyak peserta, karena tempat kami terbatas," sebutnya.

Bendahara Sekolah Menenun, Nurinda Apriella menambahkan, untuk sementara, ada 14 orang yang mengikuti pembelajaran di sekolah menenun.

Para peserta diajarkan materi tentang menenun, mulai dari pengenalan alat dan bahan, hingga praktek proses menenun.

"Setiap rombongan belajar akan mengikuti pembelajaran selama delapan kali pertemuan, itu untuk memberikan pemahaman dasar-dasar menenun,

jika ada yang ingin terus belajar, kami tetap akan terima, dan setiap bulannya kami membuka penerimaan peserta yang ingin belajar menenun," tutur Indah.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved