Kamis, 30 April 2026

Viral Wanita Goyang di Atas Kuda Menari, Budayawan: Pelaku dan Keluarga Harus Minta Maaf

"Kalau anak laki-laki ada yang biasa bergerak-gerak, tapi masih duduk, tidak seperti yang di video yang viral itu," kata Ridwan.

Tayang:
Penulis: Habluddin Hambali | Editor: Hasrul Rusdi
zoom-inlihat foto Viral Wanita Goyang di Atas Kuda Menari, Budayawan: Pelaku dan Keluarga Harus Minta Maaf
Ist/Tribun-Sulbar.com
Video viral, perempuan bergoyang di atas kuda menari (Saeyyang Pattuqduq) di Polman. 

TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU - Perempuan goyang-goyang saat naik kuda menari atau Sayyang Pattudu viral di media sosial.

Kejadian tersebut diduga terjadi di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar).

Budayawan Mandar, Ridwan Alimuddin mengatakan, kebudayaan Mandar, khususnya Sayyang Pattudu tidak pernah terjadi yang menunggang kuda melakukan goyang-goyang.

Apalagi, kalau yang missawe itu wanita.

Gubernur Sulawesi, Andi Ali Baal Masdar bersama Raja Gowa Andi Kumala Idjo Daeng Sila Karaeng Lembang Parang Batara Gowa III, dijemput menggunakan kuda Pattuduq.
Gubernur Sulawesi, Andi Ali Baal Masdar bersama Raja Gowa Andi Kumala Idjo Daeng Sila Karaeng Lembang Parang Batara Gowa III, dijemput menggunakan kuda Pattuduq. (Tribun-Sulbar.com/Hasan Basri)

"Kalau anak laki-laki ada yang biasa bergerak-gerak, tapi masih duduk, tidak seperti yang di video yang viral itu," kata Ridwan, saat dihubungi melalui sambungan telepon, Senin (20/12/2021).

Lanjutnya, dari video yang viral tersebut sangat vulgar sekali karena wanita yang bergoyang dan dia berdiri.

Menurutnya, belakangan memang ada penyimpangan yang pernah terjadi dalam tradisi Sayyang Pattudu.

"Beberapa waktu lalu ada laki-laki yang kostum dan sikapnya seperti perempuan dan missawe seperti gaya perempuan, alias bencong yang missawe," ungkap Ridwan.

Menariknya, ini agak ironis, bahwa kabarnya itu terjadi di Polman juga di Kecamatan Campalagian.

Padahal, ibu kota Campalagiang (Kappung Masigi dan sekitarnya) adalah poros dakwah Islam di Mandar bersama Pambusuang.

Baca juga: Jelang Natal dan Tahun Baru 2022, ASN Pemprov Sulbar Dilarang Cuti

Baca juga: Jadwal Terbaru Seleksi CPNS 2021, Penyampaian Hasil SKD dan SKB 21-22 Desember 2021

"Siapa yang harus bertanggung jawab? Itu tanggung jawab kita semua. Masyarakat saya lihat sepertinya permisif. Tidak ada yang memprotes di lapangan, lama-lama orang akan meniru dan akhirnya jadi kebiasaan," ujarnya.

Sebenarnya, dalam tradisi sayyang pattudu ada evolusi, tapi sebagian besar itu ke arah positif.

Satu dua saja yang tidak sesuai kebudayaan Mandar.

"Jadi jangan hanya yang memosting minta maaf. Seharusnya minta maaf yang goyang dan keluarganya," tandasnya.(*)

Laporan Wartawan TRIBUN-SULBAR.COM, Habluddin

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved