Selasa, 5 Mei 2026

Aku Lokal Aku Bangga

Manisnya Alami, Begini Cara Buat Gula Aren Khas Kalukku Mamuju

Sebelum mengurus tanaman di kebun, Amin biasanya akan menuju ke pohon enau yang berada tak jauh dari kebunnya tersebut.

Tayang:
Penulis: Ilham Mulyawan | Editor: Ilham Mulyawan

TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU - Aku lokal, aku bangga.

Sejak pukul 05.30 WITA, Muhammad Amin Ali (56) sudah meninggalkan rumahnya di Kelurahan Sinyonyoi Selatan, Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju lalu menuju ke kebun yang letaknya sekitar 1 kilometer dari kediamannya.

Sehari-hari, Amin berprofesi sebagai petani.

Selain beras, dia juga fokus menanam sayuran, memanen kelapa dan membuat gula aren.

Gula aren adalah pemanis yang dibuat dari nira, yang berasal dari tandan bunga jantan pohon enau.

Biasanya juga diasosiasikan dengan segala jenis gula yang dibuat dari nira, yaitu cairan yang dikeluarkan dari bunga pohon dari keluarga palma, seperti kelapa, aren, dan siwalan.

Sebelum mengurus tanaman di kebun, Amin biasanya akan menuju ke pohon enau yang berada tak jauh dari kebunnya tersebut.

Dia kesana untuk mengambil air nira yang ditadah melalui sebuah jeriken.

Jeriken ini digantungnya tepat di bawah saluran air nira itu sehari sebelumnya.

"Karena keluarnya sedikit-sedikit, jadi jeriken ini saya taruh kemarin. Nanti besok pagi baru diambil. Itu biasanya sudah penuh jerikennya," ujar Amin.

Usai mengambil jeriken berisi air nira, dia kemudian memasang lagi jeriken lain yang kondisinya masih kosong.

Tentu saja untuk menampung cairan dari pohon tersebut, untuk diambil lagi keesokan harinya.

Menenteng jeriken berisi air nira, Amin kemudian bergegas kembali ke kebun.

Kebunnya itu cukup luas.

Terdapat pula sebuah tungku pembakaran yang terbuat dari tanah liat.

Di atasnya sudah ada wajan berukuran besar untuk merebus air nira, sebagai proses awal pembuatan gula aren.

Air ini kemudian dipanaskan dengan api sampai kental.

Amin menyebutkan proses ini memakan waktu 3 hingga 4 jam.

"Makanya pagi-pagi sudah harus diambil dari pohon karena yang lama itu memang proses merebusnya saja karena harus sampai mengental," jelas Amin.

Sembari menambahkan jika tepat waktu, maka gula aren bisa jadi sekitar pukul 11.00 WITA.

Selama proses masak, Amin menggunakan batang dan batok pohon kelapa yang telah dikeringkan.

Dia menyebutkan menggunakan kedua bahan bakar ini membuat proses memasaknya juga lebih cepat.

Sekalipun demikian, kata Amin, api tidak juga boleh terlalu besar sampai masuk ke dalam wajan dan menjilat serta membakar gula yang sedang dimasak.

Kalau ini terjadi gula akan hangus, rasanya akan pahit dan warnanya menjadi hitam.

"Dan harus sering-sering diaduk," katanya lagi.

Selama pemanasan, biasanya akan timbul buih yang mengandung kotoran-kotoran halus.

Buih dan kotoran-kotoran ini, lanjut Amin perlu dibersihkan, sebab akan mempengaruhi mutu gula.

Maka buih itu dihilangkan dengan menggunakan sendok khusus.

"Harus pula diperbanyak diaduk agar masaknya merata dan dijaga agar bagian bawahnya tidak gosong," jelasnay lagi.

Setelah benar-benar kental, cairan dituangkan ke mangkuk-mangkuk dan ditunggunsampai mengeras.

Dalam sehari, Amin mengaku biasanya bisa menghasilkan 2,5-3 kg gula aren.

Untuk pemasaran produk gula arennya itu, dia hanya menunggu di rumah saja karena para pedagang pasar yang biasanya datang langsung ke rumah untuk membeli.

"Dalam satu minggu itu penghasilan untuk gula aren ini saja bisa mencapai Rp150 hingga Rp200 ribu, yah tergantung berapa produksi bisa dicapai,. Lumayan lah untuk pembeli ikan," ungkapnya sembari tertawa.

Dia tak menampik keuntungan jual gula aren ini tak begitu besar, namun dia masih tetap senang untuk memproduksi gula aren tersebut.

Apalagi, aren buatannya murni tanpa dicampur gula pasir atau kanji.

Hanya dicampur saja dengan sedikit taburan kelapa parut agar rasanya lebih gurih.

Awak jurnalis Tribun-Sulbar.com pun sempat mencoba mengkolaborasikan gula aren ini dengan pisang goreng.

Rasanya memang sangat nikmat, dan gula arennya melumer di mulut. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved