Selasa, 7 April 2026

Maulid Nabi

Harga Telur di Majene Masih Normal, Pedagang: Beli Memangmi Mumpung Murah

"Biasa berubah harga tiga kali seminggu tergantung peternak dari Sidrap, Sulsel. Itu mi peternakan terbesar di Sulawesi Selatan dan Barat," ucapnya.

Tayang:
Penulis: Nasiha | Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Harga Telur di Majene Masih Normal, Pedagang: Beli Memangmi Mumpung Murah
Tribun-Sulbar.com/Misbah Sabaruddin
Saleha (46), seorang pedagang telur di Pasar Sentral Majene saat melayani pembelinya, Sabtu (16/10/2021). 

TRIBUN-SULBAR.COM, MAJENE - Jelang Maulid Nabi Muhammad SAW 1443 Hijirah, harga telur ayam ras di Pasar Sentral Majene masih normal.

Pedagang telur di Pasar Sentral Majene Saleha (49) asal Asal Lingkungan Simullu, Kelurahan Baruga, Kecamatan Banggae Timur mengaku, harga ini sudah paling beberapa bulan terakhir.

"Beli memang mi untuk persiapan maulid. Mumpung murah," ujar Saleha saat melayani pembelinya di Pasar Sentral Majene, Sabtu (16/10/2021).

Baca juga: Jelang Maulid, Harga Telur di Pasar Sentral Majene Masih Rp 35 Ribu Per Rak, Pekan Depan Naik?

Baca juga: Jelang Maulid Harga Telur di Mamuju Malah Turun Drastis, Rp 85 Ribu Bisa Dapat 3 Rak

Namun, Saleha memperkirakan, harga telur ayam ras baru akan naik pekan depan.

Bertepatan dengan momen maulid.

Biasanya, di musim maulid harga telur naik dikisaran Rp 40 ribu.

"Tidak lama mi ini naik. Biasanya naik sampai Rp 42 kalau musim maulid," lanjutnya.

Ia mengaku, jadwal kenaikan harga biasanya Senin, Rabu dan Sabtu.

"Biasa berubah harga tiga kali seminggu tergantung peternak dari Sidrap, Sulsel. Itu mi peternakan terbesar di Sulawesi Selatan dan Barat," ucapnya.

Saleha sendiri tiap harinya mangkal di Depan Pasar Sentral Majene.

Ia mangal dari pagi hingga sore.

Penjual hiasan maulid Maulid Nabi Muhammad SAW ramai di Pasar Baru Mamuju Jl Abdu Syakur, Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar).
Penjual hiasan maulid Maulid Nabi Muhammad SAW ramai di Pasar Baru Mamuju Jl Abdu Syakur, Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar). (Tribun-Sulbar.com/Abd Rahman)

Ia menjual talur dengan mobil pick up yang diberi atap.

Ia mengaku mendapat untung Rp 3 ribu per rak.

"Normalnya Rp 3 ribu per rak. Tapi itu masih kotor karena beli ki pengikat tali rafia sama rak telur Rp 300 rupiah. Sama bensin juga," jelasnya.

Sehari, Ia mampu menjual 50 hingga 70 rak. (*)

Laporan Wartawan Tribun-Sulbar.com, Misbah Sabaruddin

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved