Longsor Marano
Warga Marano Minta Relokasi, Kadis Transmigrasi Sulbar: Kita Usul ke Kemendes PDTT
"Besok Tim kami turun untuk melakukan penentuan titik koordinat terhadap relokasi dimaksud," kata Ibrahim, Jumat (3/9/2021).
Penulis: Habluddin Hambali | Editor: Nurhadi Hasbi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Enam-Rumah-Hancur-Akibat-Longsor-di-Bukit-Marano-Mamuju.jpg)
TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU - Korban longsor Marano, UPT Sinyonyoi, Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju, Sulbar, meminta direlokasi ke tempat baru.
Menanggapi itu, Kadis Transmigrasi Sulbar H Ibrahim mengatakan, pihaknya sudah membentuk tim kecil menindaklanjuti kejadian longsor di Marano.
"Besok Tim kami turun untuk melakukan penentuan titik koordinat terhadap relokasi dimaksud," kata Ibrahim, Jumat (3/9/2021).
Selanjutnya, pihaknya akan membuat usulan ke pemerintah pusat terkait permintaan warga transmigrasi di Marano.
Apalagi, relokasi warga transmigrasi adalah wewenang Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT).
"Pembangunan rumah Transmigrasi dan Jamban Keluarga (RTJK) Sinyonyoi itu menggunakan dana APBN," ungkap Ibrahim.
Namun, pihaknya akan tetap berkolaborasi pusat, kabupaten dan provinsi.
Sebelumnya, guru honorer Marano Nurintang mengatakan, longsor terjadi akibat intensitas hujan tinggi sejak Kamis pukul 11.00 Wita hingga Jumat (3/9/2021) dini hari.
"Iye, belakangan dihitung ternyata ada rumah di bagian bawa lagi rusak. Jadi tujuh semua rumah rusak," kata Nurintan, Jumat (3/9/2021).
Para korban berharap adanya bantuan sembako dan pakaian masuk di bukit Marano.
"Semua pakaian dan bahan pokoknya tertimbun longsor dan mereka berharap direlokasi," ungkap Nurintang
Pukul 18.00 Wita, petugas pemerintah sudah tiba di lokasi bukit Marano terdampak longsor.
"Sudah ada datang tiga motor dari pemerintah kabupaten," bebernya.
Bukit Marano merupakan pemukiman warga transmigrasi dari berbagai daerah di Indonesia.
Perjalanan menuju ke Matano membutuhkan waktu cukup lama.