Kisah Hasura di Majene, Penjual Bedak Dingin yang Buta Sejak Lahir
Untuk 20 liter beras, Hasura hanya untung Rp 80 ribu - Rp 100 ribu. Satu bungkus dihargai seribu. Isinya 12 biji per bungkus.
Penulis: Nasiha | Editor: Hasrul Rusdi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Hasura-55-sudah-puluhan-tahun-menjual-bedak-dingin.jpg)
TRIBUN-SULBAR.COM, MAJENE - Hasura (55) warga Lingkungan Tamo, Kelurahan Baurung, Kecamatan Banggae Timur, Kabupaten Majene sudah puluhan tahun menjual bedak dingin.
Kondisinya yang terbatas tak menjadi penghalang untuk terus melanjutkan hidup.
Hasura tinggal berdua bersama suaminya, Mursalim (45) di rumah panggung.
Mursalim sehari-harinya mengayu becak untuk mencari rezeki.
Sejak lahir, Hasura divonis buta.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia menjual bedak dingin.
Ia biasa menerima pesanan dari daerah Polewali, Kalimantan, Tolitoli dan Palu.
Biasa juga ada pengecer pesan lalu dijual di Pasar Sentral Majene.
Proses pembuatan bedak dingin gampang.
Butuh 1 bulan baru bisa dijual.
Beras 20 liter direndam dengan air biasa selama satu bulan.
Selama 1 bulan itu, tiap hari airnya harus diganti supaya beras tidak berbau.
Setelah direndam 1 bulan, air rendaman dibuang dan beras dihaluskan dengan tangan.
Setelah halus lalu kembali direndam sekitar satu sampai dua hari hingga membentuk ampas.
Setelah didiamkan, airnya dibuang.