Selasa, 14 April 2026

Kisah Hasura di Majene, Penjual Bedak Dingin yang Buta Sejak Lahir

Untuk 20 liter beras, Hasura hanya untung Rp 80 ribu - Rp 100 ribu. Satu bungkus dihargai seribu. Isinya 12 biji per bungkus.

Tayang:
Penulis: Nasiha | Editor: Hasrul Rusdi
zoom-inlihat foto Kisah Hasura di Majene, Penjual Bedak Dingin yang Buta Sejak Lahir
Tribun-Sulbar.com/Misbah Sabaruddin
Hasura (55) sudah puluhan tahun menjual bedak dingin. 

TRIBUN-SULBAR.COM, MAJENE - Hasura (55) warga Lingkungan Tamo, Kelurahan Baurung, Kecamatan Banggae Timur, Kabupaten Majene sudah puluhan tahun menjual bedak dingin.

Kondisinya yang terbatas tak menjadi penghalang untuk terus melanjutkan hidup.

Hasura tinggal berdua bersama suaminya, Mursalim (45) di rumah panggung.

Mursalim sehari-harinya mengayu becak untuk mencari rezeki.

Sejak lahir, Hasura divonis buta.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia menjual bedak dingin.

Hasura (55) sudah puluhan tahun menjual bedak dingin.
Hasura (55) sudah puluhan tahun menjual bedak dingin. (Tribun-Sulbar.com/Misbah Sabaruddin)

Ia biasa menerima pesanan dari daerah Polewali, Kalimantan, Tolitoli dan Palu.

Biasa juga ada pengecer pesan lalu dijual di Pasar Sentral Majene.

Proses pembuatan bedak dingin gampang.

Butuh 1 bulan baru bisa dijual.

Beras 20 liter direndam dengan air biasa selama satu bulan.

Selama 1 bulan itu, tiap hari airnya harus diganti supaya beras tidak berbau.

Setelah direndam 1 bulan, air rendaman dibuang dan beras dihaluskan dengan tangan.

Setelah halus lalu kembali direndam sekitar satu sampai dua hari hingga membentuk ampas.

Setelah didiamkan, airnya dibuang.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved