Minggu, 26 April 2026

Jalan Rusak

Warga Ompi Pasangkayu Keluhkan Jalan Rusak: Hasil Kebun Terbuang Sia-sia

Sejumlah foto dan video yang memperlihatkan kondisi jalan menuju desa Ompi Pasangkayu tersebut diposting di instgaram @warga_ompi.

Tayang:
Penulis: Nurhadi | Editor: Munawwarah Ahmad
zoom-inlihat foto Warga Ompi Pasangkayu Keluhkan Jalan Rusak: Hasil Kebun Terbuang Sia-sia
Instagram @warga_ompi
Kondisi jalan poros Desa Ompi dan Kastabuana, Kecamatan Baras, Kabupaten Pasangkayu, Sulbar, rusak parah. 

Bahkan beberapa titik pada ruas jalan tersebut mengalami amblas sebab menjadi langganan banjir setiap musim hujan datang.

"Hati-hati ki nah guys jatuh+amblas disini tak senikmat jatuh di pangkuan, anggap saja ini jalan poros. Ayomi ke Ompi,"demikian keterangan postingan video kondisi jalan poros desa Ompi yang diabadikan seorang warga dari dalam mobil.

Jalan poros Desa Ompi dan Kastabuana merupakan jalan kabupaten, karena tidak termuat dalam SK Gubernur Sulbar nomor 188.4/688/SULBAR/X/2015 tentang penetapan ruas-ruas jalan menurut statusnya sebagai jalan provinsi, jalan strategi provinsi dan jalan strategi nasional di Provinsi Sulbar.

Tribun Sulbar.com masih berusaha melakukan konfirmasi ke pihak Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruangan (PUPR) Pasangkayu, terkait kondisi jalan tersebut.

Desa Ompi Langganan Genangan

Selain jalanan yang rusak parah, Desa Ompi, Kecamatan Baras, Kabupaten Pasangkayu, juga merupakan daerah langganan banjir.

Jika hujan deras turun, jalan tersebut akan digenangi air, kerap setinggi dua meter.

Hanya dapat dilalui menggunakan perahu.

Sabtu 2 Mei 2020 lalu, beberapa dusun di Desa Ompi terendam banjir usai duguyur hujan desa sejak Jumat 1 Mei 2020.

Air yang merendam desa itu merupakan luapan Sungai Lariang yang hulunya berada di pegunungan Kabupaten Sigi Sulteng.

Kapala Bidang Kedaruratan BPBD Kabupaten Pasangkayu, Rudi, mengatakan, melapor saat itu sebanyak 259 Kepala Keluarga (KK) yang terdampak.

Mereka dievakuasi oleh petugas BPBD Pasangkayu, kepolisian dan Tagana keluar dari desa itu menggunakan perahu karet dan rakit dari batan pisang kerena terisolir.

Rudi mengatakan ketinggian air mencapai dua meter.

"Warga yang terdampak banjir dievakuasi menggunakan rakit terbuat dari batang pisang,"kata Rudi.

Bahkan petugas kewalahan melakukan evakuasi saat itu akibat arus yang deras dan tinggi.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved