Jumat, 24 April 2026

Lipsus Stunting Pasangkayu

Stunting di Pasangkayu Masih 21 Persen, Wilayah Pesisir Penyumbang Tertinggi

Ironisnya, kasus tertinggi justru ditemukan di wilayah pesisir yang memiliki sumber pangan bergizi melimpah, terutama ikan.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Taufan | Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Stunting di Pasangkayu Masih 21 Persen, Wilayah Pesisir Penyumbang Tertinggi
Tribun-Sulbar.com/Taufan
STUNTING - Kepala Bidang Kesehatan Pasangkayu, Jumarni, saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (22/4/2026). Ia menjelaskan tingginya angka stunting di wilayah pesisir, khususnya Kecamatan Bambalamotu, dipicu rendahnya kesadaran orang tua dalam memenuhi asupan gizi anak, meski sumber pangan bergizi seperti ikan melimpah. 

Ringkasan Berita:
  • Angka stunting di Pasangkayu bertahan di 21 persen hingga Maret 2026
  • Kecamatan Bambalamotu di wilayah pesisir mencatat kasus tertinggi
  • Pola asuh dan rendahnya kesadaran gizi orang tua jadi faktor utama

 

TRIBUN-SULBAR.COM, PASANGKAYU – Angka stunting di Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat, masih berada di angka 21 persen hingga Maret 2026.

Ironisnya, kasus tertinggi justru ditemukan di wilayah pesisir yang memiliki sumber pangan bergizi melimpah, terutama ikan.

Kepala Bidang Kesehatan Dinas Kesehatan Pasangkayu, Jumarni, mengungkapkan Kecamatan Bambalamotu menjadi wilayah dengan kasus stunting tertinggi.

Baca juga: 31 KK di Desa Kombiling Mateng Tak Punya MCK, Punya Balita Rentan Stunting

Baca juga: Wabup Herny Agus Ingin Angka Stunting Pasangkayu Capai Angka 21 Persen di Awal 2024

“Justru yang paling banyak itu di wilayah pesisir, terutama di Bambalamotu,” ujarnya, Rabu (22/4/2026).

Kesadaran Gizi dan Pola Asuh Jadi Sorotan

Menurut Jumarni, kondisi tersebut seharusnya tidak terjadi karena akses pangan bergizi seperti ikan sangat mudah didapat masyarakat pesisir.

Namun, faktor pola asuh dan rendahnya kesadaran orang tua menjadi penyebab utama tingginya kasus stunting.

Banyak orang tua yang bekerja sebagai nelayan atau pekebun tidak menyiapkan makanan bergizi untuk anak ketika mereka pergi bekerja.

Akibatnya, anak-anak lebih sering mengonsumsi makanan instan seperti mi instan.

“Kalau orang tuanya pergi melaut atau ke kebun, jarang sekali anaknya dimasakkan makanan,” jelasnya.

Kondisi ini berdampak pada kurangnya asupan gizi seimbang yang dibutuhkan anak pada masa pertumbuhan, meski lingkungan sekitar kaya akan sumber pangan.

Pemerintah Kabupaten Pasangkayu melalui Dinas Kesehatan terus melakukan berbagai upaya intervensi.

Program tersebut meliputi edukasi pola asuh, pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil dan balita, serta sosialisasi gizi seimbang di wilayah pesisir.

“Bukan karena tidak ada makanan bergizi, tetapi karena pola asuh yang masih perlu diperbaiki,” tegas Jumarni.

Pemerintah berharap upaya berkelanjutan ini dapat menekan angka stunting, khususnya di wilayah pesisir yang selama ini menjadi penyumbang tertinggi.(*)

Laporan wartawan Tribun-Sulbar.com Taufan

 


 
 

Sumber: Tribun sulbar
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved