Harga Telur Naik
Efek Program MBG, Harga Telur di Mamuju Kian Mahal
Di saat komoditas hortikultura mulai melandai, harga protein hewani seperti telur ayam ras justru masih tertahan di atas harga acuan pemerintah.
Penulis: Suandi | Editor: Nurhadi Hasbi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Telur-yang-dijual-di-Pasar-Baru-Mamuju-Selasa-1032026.jpg)
Ringkasan Berita:
- Harga telur ayam ras di Pasar Baru Mamuju masih tinggi di angka Rp 34 ribu per kg, melampaui Harga Acuan Penjualan (HAP) Rp 30 ribu per kg.
- Pedagang menyebut tingginya harga dipicu meningkatnya permintaan akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyerap banyak pasokan telur.
- Sementara itu, sejumlah komoditas lain seperti beras SPHP, minyak goreng, cabai, dan ikan segar relatif stabil, bahkan beberapa mengalami penurunan harga.
TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU - Memasuki fase sepuluh hari terakhir atau hari ke-20 bulan suci Ramadan 2026, stabilitas harga pangan di pasar tradisional Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, menunjukkan tren fluktuatif.
Di saat komoditas hortikultura mulai melandai, harga protein hewani seperti telur ayam ras justru masih tertahan di atas harga acuan pemerintah.
Berdasarkan pantauan di Pasar Baru Mamuju, Selasa (10/3/2026), harga telur ayam ras (broiler) dipatok di angka Rp 34 ribu per kg.
Baca juga: Imbas MBG, Pedagang di Mamuju Keluhkan Harga Telur Sulit Turun
Baca juga: Pemuda Salutiwo Soroti Bolu Pisang Program MBG 3B di Bonehau Diduga Berjamur
Meskipun tidak mengalami kenaikan harian, angka ini nyatanya masih berada di atas Harga Acuan Penjualan (HAP) yang ditetapkan pemerintah, yakni Rp 30 ribu per kg.
Kondisi ini menciptakan tantangan tersendiri bagi daya beli masyarakat di penghujung Ramadan.
Jamaluddin, salah seorang pedagang di Pasar Baru Mamuju, mengungkapkan tingginya harga telur saat ini bukan sekadar karena momentum Lebaran, melainkan adanya pergeseran serapan pasokan.
Permintaan Program MBG Picu Kenaikan Harga
Menurut Jamaluddin, implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini berjalan intensif menjadi faktor utama stok di pasar rakyat tidak kunjung melimpah.
"Harga telur memang masih sulit turun. Penyebab utamanya karena permintaan meningkat tajam sejak adanya program Makan Bergizi Gratis itu. Banyak stok yang terserap ke sana, sehingga pasokan untuk di pasar tradisional jadi terbatas dan harganya tetap tinggi," jelas Jamaluddin saat ditemui di lapaknya.
Berbeda dengan telur, beberapa komoditas pokok lainnya justru menunjukkan tren stabilisasi yang cukup baik.
Beras medium jenis SPHP misalnya, saat ini dibanderol Rp 12 ribu per kg, masih berada di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp 12.500 per kg.
Demikian pula dengan Minyak Kita yang dijual Rp 15.500 per liter, sedikit di bawah batas HET Rp 15.700 per liter.
Gula pasir curah harganya kini menyentuh Rp 19 ribu per kg.
Angka ini tercatat melampaui HAP pemerintah yang dipatok di level Rp 17.500 per kg.
Sementara itu, untuk kebutuhan protein lain seperti daging sapi segar (paha belakang dan depan), harganya masih cukup terjaga di posisi Rp 135 ribu per kg.
| Imbas MBG, Pedagang di Mamuju Keluhkan Harga Telur Sulit Turun |
|
|---|
| Harga Telur di Pasar Mamuju Melonjak Rp56 Per Rak, Pedagang Sebut Pasokan Kurang |
|
|---|
| Jelang Ramadan, Harga Telur di Pasar Lama Mamuju Naik |
|
|---|
| Jelang Ramadan, Harga Telur Ayam Ras di Mamasa Melonjak |
|
|---|
| Jelang Maulid, Harga Telur di Mamasa Meroket, Tembus Rp 53 Ribu Per Rak |
|
|---|