Opini
Bangkitkan Pendidikan Kedalaman
Jebakan zona nyaman pembelajaran termaktub dalam cuplikan kisah kelakar guru bersangkutan dan sekarang mulai terealisasi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Mukhlis-Mustofa-Dosen-PGSD-FKIP-Universitas-Slamet-Riyadi-Surakartat.jpg)
Kisah ini saya temukan beberapa saat silam. Seorang rekan guru di sebuah sekolah berstigma nonfavorit pernah berujar pada rekan guru di sekolah lain dengan stigma favorit: “Cobalah kita bertukar peran mengajar. Saya di sekolahmu, begitu pula sebaliknya, dalam jangka waktu tertentu.” Ternyata tantangan bagi guru lain tersebut tidak diindahkan dengan beragam alasan.
Jebakan zona nyaman pembelajaran termaktub dalam cuplikan kisah kelakar guru bersangkutan dan sekarang mulai terealisasi.
Kondisi penuh jebakan pembelajaran ini tidak serta-merta menjadikan guru berbenah diri, bahkan lebih menjumudkan diri dalam kenyamanan yang melenakan dan membahayakan pembelajaran.
Keberadaan UKG (Uji Kompetensi Guru) dalam sistem penilaian kinerja guru tidak serta-merta menunjukkan nuansa perkembangan pembelajaran.
Penilaian sesaat hasil UKG 2015 secara tersirat menyatakan bahwa semakin senior seorang guru, justru nilai UKG-nya jauh di bawah guru yang lebih yunior.
Kegagapan melakukan reposisi peran pembelajaran ini menjadi permasalahan, sehingga aspek keteladanan di masa kekinian menjadi pekerjaan berat dan harus diselesaikan secara proporsional.
Muhammad Abduhzen dalam opini di Kompas, 5 Desember 2016 menyatakan bahwa untuk hidup sukses di abad 21 diperlukan beberapa keterampilan, yakni keterampilan kognitif (cognitive skills), khususnya kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking); keterampilan interpersonal (interpersonal skills), yaitu kecakapan berkomunikasi yang meyakinkan (hard communication), serta kecakapan hidup spesifik (specific life skills).
Tuntutan perkembangan kekinian tersebut selayaknya memberikan persepsi kepada guru dalam memberikan keteladanan selama menjalankan tugas pembelajarannya.
Menyikapi hasil UKG di atas, kalangan guru nampaknya perlu mereposisi sejauh mana keteladanan dibutuhkan dalam proses pembelajaran berkelanjutan.
Kesadaran kolektif guru perlu dimunculkan, mengingat respons negatif yang serba satir lebih banyak mengemuka manakala kebijakan pembelajaran terbarukan ini muncul.
Penolakan kuat terhadap pemberlakuan Kurikulum 2013 menjelang dilaksanakan secara nasional, dengan alasan kurikulum masa lalu masih relevan, menjadi bukti betapa kuatnya zona nyaman melingkupi dunia keguruan negeri ini.
Tantangan ini perlu disambut dengan keteladanan cerdas tak terbatas, mengingat mainstream pendidikan terkadang terus berkembang liar.
Tantangan inilah yang selayaknya mendasari pola pemahaman keteladanan kekinian, sehingga pendidikan linier dengan perkembangan zaman.
Hakikat profesi guru sebagai manusia pembelajar sejati selayaknya disadari dalam mewarnai profesi untuk mengembangkan potensi diri insani.
Kejelasan peran dan makna selama menjalankan profesi guru merupakan sebuah keniscayaan manakala habitus baru ingin dikembangkan dalam pola pembelajaran berbasis kekinian tanpa terus merasa ketinggalan. (*)
| Infodemik Dukono Ketika Konten Viral Mengalahkan Peringatan Bencana |
|
|---|
| Penguatan Dolar Amerika Serikat dan Tantangan Ketahanan Ekonomi Sulawesi Barat |
|
|---|
| Pendidikan Buka Pasar |
|
|---|
| Menanti Pembuktian "Assa" untuk Petani Polman |
|
|---|
| Kado Ulang Tahun Duta Sheila On 7: Single Baru atau Keteladanan yang Tak Pernah Usang? |
|
|---|