Minggu, 24 Mei 2026

Opini

Bangkitkan Pendidikan Kedalaman

Jebakan zona nyaman pembelajaran termaktub dalam cuplikan kisah kelakar guru bersangkutan dan sekarang mulai terealisasi.

Tayang:
Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Bangkitkan Pendidikan Kedalaman
Istimewa
OPINI - Mukhlis Mustofa, Dosen PGSD FKIP Universitas Slamet Riyadi Surakartat 

Pada masa kekinian saat ini, tantangan keteladanan guru menuai jalan terjal.

Di tengah ragam pola pendidikan, prinsip keteladanan dianggap sebagai sebuah kemustahilan seiring beragam tuntutan peradaban zaman yang tidak disikapi secara proporsional oleh guru.

Terminologi kekinian Kids Zaman Now meluncur mulus di ranah publik bermadzhab kekinian berbasis media sosial yang secara tidak langsung menuntut aspek keteladanan ini diberlakukan secara fundamental.

Guru Zaman Now tidak sekadar memberikan keteladanan layaknya simbol indah.

Hierarkis manusia dengan segenap perkembangan zaman di mana ia hidup layak dipersepsikan berkaitan fenomena kekinian tersebut.

Persepsi generasi spontan, meledak-ledak, kaya informasi tanpa terduga, terstigmakan dalam kelompok kekinian selayaknya disikapi secara proporsional oleh kalangan guru dalam pengembangan keteladanan yang diidamkan.

Laduk wani kurang dugo sebagai ungkapan Jawa menjelaskan istilah yang disematkan pada generasi kekinian memosisikan redaman-redaman edukatif tidak sekadar retorika, yang dinantikan elemen pendidikan secara keseluruhan.

Bagaimanakah selayaknya memosisikan guru dalam era Kids Zaman Now menjadi isu sentral, tidak sekadar mengikuti arus perkembangan zaman.

Tuntutan peradaban kekinian ini harus diperhatikan untuk meningkatkan kepercayaan diri sepenuhnya bagi guru dalam menjalankan peran pembelajarannya.

Meminimalisasi Kegagapan

Menyikapi tuntutan pada guru, Woods, Jefry, Troman & Boyle mengklasifikasikan empat tanggapan guru ketika berhadapan dengan gagasan perubahan dan pembaruan; guru mengalami pertumbuhan (enhanced teachers) yakni kedewasaan dan keseimbangan peran, guru sekadar ikut arus (compliant teachers), guru yang tidak ikut arus (non-compliant teachers) dan mengalami konflik dengan hal baru, serta guru yang menjadi kerdil (diminished teachers) atau guru tanpa daya (Donie Kusuma, 2015).

Tuntutan kinerja guru tersebut patut menjadi acuan: bagaimanakah tugas pembelajaran ini dilaksanakan pada masa kekinian?

Persepsi yang terbangun selama ini manakala guru melaksanakan tugas pokoknya lebih banyak tertinggal pada keengganan keluar dari zona nyaman sehingga berpotensi menumbuhkan kejumudan akut.

Kebijakan pembelajaran terbarukan seperti pemberlakuan kurikulum baru, sebagai permisalan, sering kali menimbulkan energi negatif yang lebih mengemuka dibandingkan upaya untuk beradaptasi terhadap kebijakan baru pembelajaran tersebut.

Kurun waktu menjadi guru pun tidak serta-merta menjadikan kaum cerdik pandai ini mereposisi diri untuk menghadapinya, namun justru berupaya sedemikian kuat menjaga kenyamanan dalam mengajarnya.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved