Minggu, 24 Mei 2026

Opini

Bangkitkan Pendidikan Kedalaman

Jebakan zona nyaman pembelajaran termaktub dalam cuplikan kisah kelakar guru bersangkutan dan sekarang mulai terealisasi.

Tayang:
Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Bangkitkan Pendidikan Kedalaman
Istimewa
OPINI - Mukhlis Mustofa, Dosen PGSD FKIP Universitas Slamet Riyadi Surakartat 

Oleh: Mukhlis Mustofa
(Dosen PGSD FKIP Universitas Slamet Riyadi Surakarta)

Keberadaan Hari Buku Nasional setiap 17 Mei menumbuhkan asa tersendiri. Dorongan peningkatan keterbacaan diikhtiarkan sementara gempuran media noncetak terus melanda.

Menarik mencermati di balik booming-nya film animasi Jumbo hingga menyentuh angka 9 juta penonton (Tribun Jogja, 11 Mei 2025).

Besaran jumlah penonton ini sedemikian menarik manakala melihat film tersebut kental dengan nuansa literasi.

Tokoh Don ingin bercerita dalam film tersebut dan pada akhirnya menginspirasi semua kalangan serta mendidik negeri dengan literasi yang memadai.

Di balik animasi tersebut haruslah dipertimbangkan: mengapa muncul kebanggaan dan tidak menyiratkan kehilangan mendalam, istilahnya “menyembuhkan luka hati.”

Saya mengajak khalayak mempertimbangkan mengapa kondisi peran sentral buku, terutama dalam ikhtiar edukasi negeri ini.

Guru dan buku adalah pasangan tak terpisahkan dalam edukasi negeri ini.

Salah satu epos pada kisah Mahabharata menyebutkan Pendeta Durna terikat sumpah hanya menerima murid dari kalangan Hastinapura.

Dikisahkan muncul seorang Bambang Ekalaya yang menghadap untuk menjadi murid dan ditolaknya.

Penolakan Pendeta Durna ini menjadikan Bambang Ekalaya membangun patung Pendeta Durna dan berlatih di hadapan patung tersebut hingga kemampuannya setara dengan Arjuna.

Tuntutan keteladanan dan ketaatan kepada guru ditunjukkan Bambang Ekalaya dengan menghadirkan sosok guru idola dalam wujud patung pada kisah tersebut, menjadikan kompetensinya tidak berkurang drastis dan setara dengan murid langsung Pendeta Durna.

Bangkitkan semangat belajar seutuhnya dalam seluruh penyelenggaraan pendidikan menjadi peran di balik kebijakan penerapan kurikulum deep learning yang berimplikasi serius di tengah carut-marut pendidikan kekinian.

Di tengah deraan permasalahan kependidikan baik secara struktural maupun nalar ilmiah, tuntutan guru menjadi role model bukanlah semudah membalikkan telapak tangan.

Keteladanan pendidik seakan menjadi barang usang di tengah perkembangan kekinian, dan guru selama ini termarginalkan dengan beragam posisi.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved