Literasi
Pesan Jumat Dari Cak Nur
Kupasan Cak Nur diawali dengan sejarah pembacaan salam ketika akan memulai khotbah, penyampaian sejarahnya sangat menarik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Ilham-Sopu-salah-satu-cendikiawan-Muslim-asal-Kabupaten-Polman.jpg)
Oleh : Ilham Sopu
Salah satu buku Cak Nur panggilan akrab dari Prof Nurcholis Madjid, yaitu pesan-pesan taqwa. Buku ini adalah kumpulan khotbah-khotbah jumat Cak Nur di yayasan wakaf Paramadina.
Dalam khotbah-khotbahnya yang telah dibukukan tersebut, banyak tema-tema keislaman yang menjadi topik yang sangat menarik dan diramu dalam bahasa yang mudah dipahami.
Tema sentral yang menjadi fokus utama Cak Nur, adalah tema-tema yang bernuansa kemanusiaan. Dan semuanya bermuara kepada pokok bahasan ketaqwaan, itulah sebabnya buku tersebut di beri judul "pesan-pesan taqwa".
Gaya bahasa buku ini, sangat mudah dipahami karena berangkat dari bahasa lisan kemudian dituangkan kedalam bahasa tulisan, tidak nampak seperti tulisan ilmiah sebagaimana buku-buku Cak Nur lainnya.
Tema-temanya juga sangat kondisional sekalipun disampaikan beberapa tahun lalu.
Kelebihan khotbah-khotbah Cak Nur, disamping mengutip ayat-ayat Al-Qur'an dan hadis Nabi, juga diramu dengan interpretasi kekinian, juga banyak mengakomodir pendapat-pendapat ulama klasik seperti Al Gazali, Ibnu Taimiyah dan mengutip ulama-ulama kontemporer seperti Buya Hamka.
Di awal buku tersebut, Cak Nur mencoba mengupas dalam khotbahnya tentang "pesan taqwa". Kupasan Cak Nur diawali dengan sejarah pembacaan salam ketika akan memulai khotbah, penyampaian sejarahnya sangat menarik.
Sebelum Nabi berkhotbah, Beliau keluar dari rumahnya yang pada waktu itu, rumah Nabi terletak satu bangunan dengan mesjid, setelah Nabi memastikan sudah banyak yang hadir untuk shalat jumat, Nabi keluar dari rumahnya, dan mengucapkan salam kepada para sahabat dan langsung duduk diatas mimbar.
Disitulah dimulai adzan oleh sahabat, disitu Nabi memanfaatkan untuk memperhatikan para sahabatnya, mengecek para sahabatnya siapa yang hadir dan siapa yang tidak hadir, Nabi memanfaatkan momentum tersebut media untuk mengecek atau memandang kepada para sahabat yang hadir di shalat jumat.
Kita bisa mengambil hikmah bahwa kita seharusnya sudah berada di dalam mesjid ketika khatib sudah berada diatas mimbar.
Cak Nur juga menyampaikan, tentang sejarah adzan dua kali pada hari Jumat, yang pada periode Nabi, adzan dilaksanakan cuma satu kali, nanti pada zaman Usman bin affan, adzan satu kali tidak cukup.
Karena pada waktu itu perkembangan umat sudah sangat banyak dan meluas, sehingga Usman memerintahkan untuk adzan dua kali.
Dan ini sama dengan sejarah perkembangan shalat tarwih, yang awalnya dilaksanakan di rumah sendiri oleh Nabi, namun karena banyak sahabat yang ikut untuk shalat bersama dengan Nabi sehingga memutuskan untuk shalat berjamaah tarwih di mesjid.
Dalam pandangan Cak Nur, bahwa shalat sunnat memang harus dilaksanakan di rumah, karena pada prinsipnya shalat sunnat harus dilaksanakan di rumah dengan merujuk awal Nabi dalam melaksanakan tarwih.