Rabu, 8 April 2026

Kesehatan

60 Juta Orang Perokok Aktif di Indonesia, Ini Kata Eks Dirketur WHO

Prof Tikki mengatakan, saat ini dunia termasuk Indonesia terus berupaya menurunkan prevalensi merokok

Tayang:
Editor: Abd Rahman
zoom-inlihat foto 60 Juta Orang Perokok Aktif di Indonesia, Ini Kata Eks Dirketur WHO
SHUTTERSTOCK
JUMLAH PEROKOK DI INDONESIA - Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization) mencatat jumlah perokok di Indonesia saat ini mencapai 60 juta orang dari total penduduk sekitar 273 juta jiwa.(Ilustrasri rokok) 

TRIBUN-SULBAR.COM - Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization) mencatat jumlah perokok di Indonesia saat ini mencapai 60 juta orang dari total penduduk sekitar 273 juta jiwa.

Hal itu diungkapkan eks Dirktur Penelitian, Kebijakan dan Kerja Sama  WHO, Prof Tikki Pangestu seperti dikutip Tribun-Sulbar.com di Tribunnews.com, Senin (14/4/2025).

Prof Tikki mengatakan, saat ini dunia termasuk Indonesia terus berupaya menurunkan prevalensi merokok.

Kata dia, sejumlah penelitian disebutkan starategi pengurangan risiko tembakau atau tobacco harm reduction (THR) itu diharapkan dapat mempengaruhi seseorang untuk berhenti merokok.

Upaya ini memiliki pendekatan alternatif untuk menawarkan produk ang rendah risiko kesehatan.Seperti rokok elektronik, produk tembakau yang dipanaskan maupun kantong nikotin. Namun, adopsi strategi ini masih mengalami banyak hambatan

Meskipun ada bukti tentang potensi manfaat produk tembakau alternatif dalam mengurangi risiko kesehatan, masih banyak pihak yang abai terhadap hal tersebut. 

Diantaranya WHO yang tidak pernah mempertimbangkan potensi ini dalam mengurangi prevalensi merokok.

“Produk tembakau alternatif ini tidak digunakan secara luas untuk mengatasi epidemi merokok yang terjadi di dunia. Hal itu benar-benar mempengaruhi saya sebagai seorang ilmuwan. Mengapa para pembuat kebijakan, WHO, mengabaikan begitu saja bukti yang saya yakini sangat kuat bahwa produk ini benar-benar dapat menyelamatkan nyawa,” ungkap Prof Tikki.

Prof Tikki menyebutkan, ada tiga faktor utama yang menjadi penghambat utama dalam penerapan pengurangan risiko tembakau.

Baca juga: Jadwal Bioskop XXI di Matos Mamuju Hari Ini 14 April 2025, Ada Film Komang dan Qodrat 2

Baca juga: Jadwal Bioskop XXI di Matos Mamuju Hari Ini 14 April 2025, Ada Film Komang dan Qodrat 2

Pertama adalah kuatnya lobi dari kelompok pengendalian antitembakau yang memiliki sumber daya besar dan pendanaan kuat.

Kedua adalah posisi WHO negara-negara berpenghasilan menengah ke bawah cenderung mengikuti arahan WHO yang memiliki sikap menolak terhadap pendekatan pengurangan risiko tembakau.

Dampaknya, negara-negara tersebut seringkali mengalami keterbatasan dalam menilai manfaat dari implementasi pendekatan pengurangan risiko tembakau melalui penggunaan produk-produk tembakau alternatif.

Ketiga, maraknya ​d​isinformasi tentang produk tembakau alternatif yang menyebabkan pemerintah dan organisasi kesehatan menolak untuk lebih terbuka terhadap potensi produk tembakau alternatif.

Salah satu bentuk ​disinformasi yang paling umum adalah anggapan bahwa produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan yang sama dengan rokok.

"Semua poin tersebut cukup sulit diatasi dan mencerminkan posisi yang hampir tidak dapat didamaikan. Kelompok pengendalian tembakau bertujuan menciptakan masyarakat bebas nikotin, bagi saya itu bersifat ideologis dan sangat tidak mungkin tercapai. Sementara itu, kami di komunitas pengurangan dampak buruk tembakau memiliki tujuan kesehatan masyarakat yang lebih pragmatis." Pungkasanya.(*)

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved